Ikuti Kami
kabarmalam.com

Kursi Besi Minimarket: Ruang ‘Healing’ Sederhana di Balik Riuhnya Hiruk-Pikuk Kota

Wahid | kabarmalam.com
Kamis, 23 Apr 2026 17:34 WIB
Kursi Besi Minimarket: Ruang 'Healing' Sederhana di Balik Riuhnya Hiruk-Pikuk Kota

Kabarmalam.com — Pernahkah Anda merasa bahwa dunia bergerak terlalu cepat dan berisik hingga kepala terasa penuh? Di tengah kepungan polusi suara dan tuntutan hidup yang tak ada habisnya, banyak orang justru menemukan ketenangan di tempat yang paling tidak terduga: kursi besi di depan minimarket. Tanpa desain estetik maupun privasi yang mewah, kursi-kursi dingin ini seolah memiliki magnet tersendiri bagi mereka yang sedang bergelut dengan overthinking.

Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat. Seringkali saat larut malam atau selepas jam pulang kantor, kursi-kursi tersebut dipenuhi oleh jiwa-jiwa yang ingin menepi sejenak sebelum benar-benar kembali ke rumah. Menariknya, kursi besi ini seolah memiliki ‘jam sibuk emosional’ di mana setiap orang yang duduk di sana membawa bebannya masing-masing dalam diam.

Zona Netral Tanpa Tuntutan

Secara medis, fenomena duduk melamun di depan minimarket ini disebut sebagai psychological behavior. Psikiater dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan bahwa tempat tersebut merupakan ‘zona tengah’ atau lokasi netral yang dianggap aman secara psikologis. Dalam dunia psikologi, area ini sering disebut sebagai safe anonymous space.

Baca Juga  Menolak Terpuruk, Jessica Iskandar Kisahkan Perjuangan Bangkit dari Titik Tergelap Hidupnya

“Di rumah, seseorang memiliki peran dan ekspektasi, baik sebagai orang tua, anak, atau pasangan. Di tempat kerja, ada tekanan target, deadline, dan atasan yang mengawasi,” ungkap dr. Lahargo. Sebaliknya, di depan minimarket, tidak ada yang menuntut apa pun. Seseorang bisa duduk tenang melihat lalu lalang orang tanpa harus terlibat percakapan, namun tetap merasakan kehadiran manusia lain sehingga tidak merasa benar-benar kesepian.

Sensasi ‘diam’ inilah yang dicari. Bukan untuk memikirkan solusi yang rumit, melainkan untuk memberikan jeda bagi otak yang sudah terlalu lelah bekerja. Di kursi besi inilah, seseorang diizinkan untuk ‘tidak menjadi siapa-siapa’ selama beberapa waktu guna menjaga kesehatan mental mereka.

Baca Juga  Potensi Luar Biasa Daun Apa-apa, Penemuan Tim Unair untuk Lawan Kanker Serviks dan Payudara

Mengapa Pria Lebih Sering Melakukannya?

Jika diperhatikan di media sosial maupun dunia nyata, kaum pria tampak lebih mendominasi pemandangan duduk termenung di minimarket ini. Ternyata, hal tersebut berkaitan erat dengan perbedaan mekanisme koping (coping mechanism) antara pria dan wanita dalam menghadapi stres.

Dr. Lahargo memaparkan bahwa pria cenderung menggunakan metode internalizing dan withdrawal. Artinya, saat menghadapi masalah, pria lebih memilih untuk diam, menarik diri dari keramaian, dan memproses emosinya secara mandiri. Inilah yang membuat mereka betah duduk berjam-jam hanya dengan ditemani segelas kopi instan dan kepulan asap rokok.

Berbeda halnya dengan wanita yang cenderung menggunakan metode externalizing. “Wanita biasanya lebih suka berbagi atau sharing. Mereka mencari koneksi dengan bercerita atau curhat kepada orang terdekat sebagai bentuk pelepasan emosi,” tambahnya. Itulah sebabnya, meski tujuannya sama-sama mencari ketenangan, cara yang ditempuh bisa sangat berbeda.

Baca Juga  Investasi Kesehatan Sejak Dini: 5 Kebiasaan di Usia 20-30 yang Ampuh Tangkis Risiko Mati Muda

Oase di Tengah Kelelahan Eksistensial

Meski terlihat sederhana, keberadaan kursi besi ini menjadi bukti bahwa manusia modern membutuhkan ruang publik yang inklusif untuk beristirahat tanpa harus mengeluarkan biaya mahal. Kursi-kursi ini adalah pelarian singkat dari realitas yang terkadang terasa tidak baik-baik saja. Melalui coping mechanism sederhana ini, banyak orang berhasil mengisi kembali ‘tangki emosional’ mereka sebelum kembali bertarung dengan realitas esok hari.

Jadi, jika nanti Anda melihat seseorang duduk terpaku menatap aspal di depan minimarket, biarkanlah. Mereka mungkin sedang tidak ingin diganggu, melainkan sedang berdialog dengan diri sendiri di satu-satunya tempat yang tidak menuntut mereka untuk menjadi sempurna.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid