IDAI: Ancaman Campak dan Difteri Jauh Lebih Mendesak Dibanding Isu Hantavirus
Senin, 11 Mei 2026 05:34 WIB
Kabarmalam.com — Di tengah riuhnya pemberitaan mengenai ancaman virus baru, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan sudut pandang yang menenangkan sekaligus menjadi pengingat keras bagi sistem kesehatan nasional. Munculnya Hantavirus jenis Andes Virus yang sempat merebak di kapal MV Hondius belakangan ini memicu kekhawatiran, namun para ahli meminta masyarakat untuk tidak terjebak dalam kepanikan yang berlebihan.
Hingga saat ini, Hantavirus jenis Andes—yang dikenal memiliki kemampuan penularan antarmanusia—belum terdeteksi masuk ke wilayah Indonesia. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, meski terdapat 23 laporan kasus Hantavirus dalam kurun waktu tiga tahun terakhir di tanah air, seluruhnya didominasi oleh jenis Seoul Virus, bukan varian Andes yang dikhawatirkan tersebut.
Prioritas yang Terabaikan: ‘Rumah Kita Sedang Terbakar’
Prof. Dr. dr. Dominicus Husada, SpA, SubspIPT, Anggota Unit Kerja Koordinasi infeksi penyakit tropik IDAI, memberikan analogi yang cukup menohok mengenai kondisi kesehatan di Indonesia saat ini. Menurutnya, perhatian publik seharusnya lebih difokuskan pada penyakit endemik yang sudah jelas-jelas memakan korban dan belum tertangani sepenuhnya.
“Karena yang membuat saya prihatin, saat ini rumah kita ini sedang terbakar. Kasus-kasus infeksi di Indonesia ini begitu banyaknya dan kita tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk mengatasinya,” ujar dr. Dominicus dalam sebuah konferensi pers yang digelar IDAI pada Jumat (8/5/2026).
Ia menekankan bahwa kasus campak dan difteri adalah ancaman nyata yang dampak luasnya sudah sangat terasa. Penyakit-penyakit ini masih menjadi pekerjaan rumah besar yang belum terselesaikan secara optimal meski sudah bertahun-tahun menjadi perhatian pemerintah.
Langkah Pencegahan yang Efektif dan Murah
Meskipun Hantavirus tetap perlu diwaspadai, dr. Dominicus menilai bahwa mobilisasi sumber daya besar-besaran untuk mengantisipasi risiko yang saat ini tergolong rendah di Indonesia bukanlah langkah yang bijak. Ia menyarankan agar fokus lebih diarahkan pada edukasi masyarakat di level akar rumput.
Beberapa poin utama yang ditekankan oleh IDAI meliputi:
- Penerapan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) sebagai benteng utama pertahanan tubuh.
- Penguatan kesadaran di tingkat keluarga untuk memitigasi risiko infeksi sedini mungkin.
- Optimalisasi sumber daya untuk menangani penyakit yang sudah mewabah dan memiliki dampak kematian tinggi pada anak-anak.
“Saya sebagai orang infeksi akan mengatakan bahwa kita tidak perlu takut secara berlebihan. Kita tidak perlu mengeluarkan begitu banyak sumber daya terhadap sesuatu yang risikonya bagi kita saat ini tidak sangat besar,” tambahnya. Kunci utama untuk menangkal berbagai virus, termasuk Hantavirus, sebenarnya sangat sederhana dan terjangkau: gaya hidup bersih dan sehat.
Dengan menjaga kebersihan lingkungan dan diri sendiri, setiap individu secara otomatis telah berkontribusi dalam menjaga ketahanan kesehatan nasional tanpa harus membebani keuangan negara dengan biaya penanganan yang mahal. Pesannya jelas: daripada cemas pada virus yang masih jauh di luar sana, lebih baik kita memadamkan ‘api’ penyakit yang saat ini sedang melanda di depan mata.