Kemenkes Ungkap Fakta Hantavirus di Indonesia: 23 Kasus Terdeteksi, 3 Pasien Meninggal Dunia
Jumat, 08 Mei 2026 09:05 WIB
Kabarmalam.com — Ancaman penyakit zoonosis kembali menjadi sorotan setelah Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI merilis data terbaru mengenai penyebaran Hantavirus di tanah air. Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, otoritas kesehatan mencatat sedikitnya ada 23 kasus konfirmasi yang tersebar di sembilan provinsi, dengan angka kematian mencapai 13 persen.
Fenomena ini mencuat di tengah kekhawatiran global terhadap wabah Andes Hantavirus yang sempat melanda kapal pesiar mewah MV Hondius. Namun, tim jurnalis kami merangkum bahwa masyarakat Indonesia diminta untuk tetap waspada tanpa perlu panik berlebihan, mengingat jenis virus yang ditemukan di Indonesia memiliki karakter yang berbeda.
Seoul Virus: Ancaman dari Lingkungan Pemukiman
Berdasarkan hasil identifikasi laboratorium, seluruh kasus Hantavirus di Indonesia terkonfirmasi sebagai jenis Seoul Virus. Berbeda dengan varian Andes yang memiliki kemampuan penularan antarmanusia, Seoul Virus ditularkan melalui perantara hewan pengerat, khususnya tikus dan celurut yang terinfeksi.
Proses penularannya pun terjadi melalui beberapa mekanisme yang perlu diwaspadai oleh masyarakat, di antaranya:
- Gigitan langsung dari tikus yang membawa virus.
- Kontak dengan ekskresi maupun sekresi hewan tersebut, seperti saliva, urine, dan feses.
- Inhalasi aerosol, yakni menghirup debu di area kotor yang telah terkontaminasi oleh limbah biologis tikus.
Tren Kasus dan Sebaran Wilayah
Data dari Kemenkes RI menunjukkan fluktuasi jumlah penderita dalam tiga tahun terakhir. Puncak temuan terjadi pada tahun lalu dengan total 17 kasus. Sementara itu, sepanjang tahun 2024 tercatat hanya satu kasus, dan memasuki periode tahun 2026 hingga saat ini, telah terdeteksi penambahan lima kasus baru.
Adapun sebaran wilayah yang pernah melaporkan adanya temuan virus ini meliputi:
- DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten
- Jawa Timur dan DI Yogyakarta
- Sumatera Barat dan Kalimantan Barat
- Sulawesi Utara dan Nusa Tenggara Timur (NTT)
“Hingga saat ini, dari 23 orang yang dinyatakan positif, 20 di antaranya telah sembuh total, namun tiga pasien dilaporkan meninggal dunia,” jelas Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik, Aji Muhawarman, dalam keterangan resminya pada Kamis (7/5/2026).
Analisis Risiko dan Komplikasi Kesehatan
Meski angka kematian menyentuh angka 13 persen, pemerintah menilai risiko importasi kasus Andes Hantavirus yang menular antarmanusia ke Indonesia masih tergolong rendah. Kasus jenis tersebut umumnya sangat langka dan terbatas penyebarannya di wilayah Amerika Selatan.
Terkait fatalitas pada tiga pasien di Indonesia, tim medis menyebutkan bahwa tingkat kematian yang relatif tinggi tidak dipicu oleh serangan virus tunggal. Faktor ko-infeksi atau penyakit penyerta memainkan peran krusial. Beberapa pasien yang tidak tertolong diketahui mengidap kanker hati serta mengalami kegagalan multiorgan yang memperburuk kondisi klinis mereka saat terinfeksi Seoul Virus.
Sebagai langkah antisipasi, masyarakat diimbau untuk lebih disiplin dalam menjaga sanitasi lingkungan. Menutup akses masuk tikus ke dalam rumah dan rutin membersihkan area gudang atau tempat lembap menjadi langkah preventif paling efektif untuk memutus rantai penularan Seoul Virus di lingkungan sekitar.