Ikuti Kami
kabarmalam.com

Skandal Pelecehan Digital di FH UI: Membedah Luka Psikologis yang Tak Kasat Mata

Wahid | kabarmalam.com
Rabu, 15 Apr 2026 07:35 WIB
Skandal Pelecehan Digital di FH UI: Membedah Luka Psikologis yang Tak Kasat Mata

Kabarmalam.com — Jagat maya baru-baru ini diguncang oleh kebocoran tangkapan layar percakapan grup WhatsApp yang melibatkan sejumlah mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI). Kasus yang mencuat ke publik ini bukan sekadar isu biasa, melainkan menyangkut dugaan pelecehan seksual yang melibatkan belasan mahasiswa. Ironisnya, tindakan yang mencederai martabat ini lahir dari rahim institusi pendidikan hukum yang seharusnya menjadi garda terdepan penegakan etika.

Pihak Universitas Indonesia tidak tinggal diam. Melalui pernyataan resmi di media sosial, FH UI mengonfirmasi telah menerima laporan terkait dugaan pelanggaran kode etik dan potensi tindak pidana ini sejak 12 April 2026. Dekanat menegaskan bahwa mereka tengah melakukan proses verifikasi yang mendalam dengan prinsip kehati-hatian, sembari mengecam segala bentuk kekerasan, terutama di ruang digital.

Luka Digital yang Tak Kalah Perih dari Luka Fisik

Banyak yang beranggapan bahwa pelecehan verbal di ruang chat tidak sefatal sentuhan fisik. Namun, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, seorang psikiater dari PP-PDSKJI, mematahkan stigma tersebut. Menurutnya, dampak kesehatan mental yang dialami korban pelecehan digital bisa setara dengan kekerasan fisik langsung.

Baca Juga  Fenomena Culas di UTBK 2026: Antara Tekanan Mental dan Pudarnya Integritas Akademik

“Luka psikologis itu subjektif. Makna traumatis yang dirasakan korban jauh lebih menentukan daripada bentuk tindakannya. Dalam ruang digital, korban bisa merasa sangat direndahkan, dipermalukan, dan dijadikan objek konsumsi publik yang membuat mereka kehilangan rasa aman secara total,” jelas dr. Lahargo dalam sebuah diskusi mendalam.

Ia menambahkan bahwa konten pelecehan yang tersebar luas dapat memicu intrusive thoughts atau pikiran yang terus-menerus menghantui. Dalam skenario terburuk, hal ini bisa berkembang menjadi Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Dampaknya merusak fondasi dasar manusia, mulai dari harga diri (self-esteem), kepercayaan pada lingkungan sosial (trust), hingga citra tubuh (body image).

Fenomena ‘Grup Tertutup’ dan Pudarnya Empati

Mengapa sekelompok mahasiswa terpelajar bisa terjebak dalam perilaku yang merendahkan orang lain? Dr. Lahargo menyoroti fenomena group reinforcement. Di dalam grup WhatsApp yang tertutup, candaan seksis atau pelecehan sering kali mengalami normalisasi karena mendapatkan validasi dari sesama anggota kelompok. Sesuatu yang salah secara moral justru dianggap lucu atau keren karena didukung oleh rekan-rekan mereka.

Baca Juga  Kontroversi Anggaran Miliaran Badan Gizi Nasional: Bedah Fakta di Balik Belanja EO Hingga Semir Sepatu

Selain itu, terdapat efek yang disebut disinhibition effect di dunia maya. Fenomena ini membuat seseorang merasa lebih berani dan lepas kontrol saat berkomunikasi lewat layar dibandingkan saat bertatap muka. “Di balik layar, empati sering kali meluruh. Pelaku lupa bahwa ada manusia nyata dengan perasaan yang hancur di balik nama atau foto profil yang mereka jadikan bahan olok-olok,” tambahnya.

Topeng ‘Hanya Bercanda’ sebagai Tameng Moral

Saat kasus seperti ini meledak, respons klasik yang sering muncul dari pelaku adalah rasionalisasi. Kalimat seperti “cuma bercanda” atau “tidak serius” menjadi tameng untuk melepaskan tanggung jawab moral. Padahal, secara psikologis, martabat seseorang bukanlah bahan komedi.

Baca Juga  Pelarian Berakhir di Mesir? Kasus Dugaan Pelecehan Seksual SAM Kini Memasuki Babak Baru

Motivasi pelaku sering kali berakar pada kebutuhan akan validasi sosial dan unjuk maskulinitas yang toksik. Mahasiswa FH UI yang terlibat mungkin merasa perlu dianggap dominan atau lucu di hadapan kawan-kawannya, tanpa memedulikan kekerasan seksual digital yang mereka ciptakan.

Tragedi digital ini menjadi pengingat keras bagi institusi pendidikan bahwa literasi etika di ruang siber jauh lebih mendesak daripada sekadar penguasaan teori hukum. Luka di layar mungkin tidak berdarah, namun ia sanggup mematikan karakter dan masa depan seseorang secara perlahan.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid