Ikuti Kami
kabarmalam.com

Sisi Gelap Tren ‘Bed Rotting’ di TikTok: Saat Rebahan Tak Lagi Menjadi Penawar Lelah

Wahid | kabarmalam.com
Minggu, 03 Mei 2026 07:34 WIB
Sisi Gelap Tren 'Bed Rotting' di TikTok: Saat Rebahan Tak Lagi Menjadi Penawar Lelah

Kabarmalam.com — Belakangan ini, layar ponsel kita sering kali dipenuhi oleh pemandangan anak muda yang bergelung di balik selimut tebal, dikelilingi camilan, sambil menatap layar gadget selama berjam-jam. Mereka menyebutnya sebagai bed rotting—sebuah istilah yang terdengar ekstrem namun tengah menjadi fenomena populer di jagat TikTok. Meski secara harfiah berarti “membusuk di tempat tidur”, bagi banyak Generasi Z, ini dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap tekanan hidup yang kian menyesakkan.

Namun, di balik kenyamanan kasur yang empuk, para pakar kesehatan mulai membunyikan lonceng peringatan. Ada batas yang sangat tipis antara istirahat yang memulihkan dengan perilaku yang justru bisa merusak kesehatan mental. Bed rotting bukanlah sekadar tidur siang singkat, melainkan aktivitas menghabiskan waktu seharian di atas ranjang untuk hal-hal pasif, mulai dari scrolling media sosial tanpa henti hingga makan di tempat tidur.

Baca Juga  Boba hingga Kopi Susu Jadi Target Utama, BPOM Beberkan Alasan Label 'Nutri-Level' Diprioritaskan

Oase di Tengah Tuntutan Produktivitas

Bagi mereka yang merasa lelah dengan tuntutan karier, pendidikan, maupun interaksi sosial, bed rotting sering kali dianggap sebagai oase. Nicole Hollingshead, PhD, seorang psikolog klinis dari Ohio State University Wexner Medical Center, melihat fenomena ini sebagai pelarian dari budaya “hustle culture” yang memuja kesibukan.

“Masyarakat kita cenderung mendewakan sikap untuk selalu produktif setiap saat. Hal ini membuat seseorang merasa perlu memiliki ruang aman untuk diam tanpa merasa bersalah,” ungkap Hollingshead. Senada dengan itu, psikolog Courtney DeAngelis dari NewYork-Presbyterian menilai bahwa dalam durasi yang singkat, aktivitas ini memang bisa membantu meredakan stres berlebihan dan kelelahan fisik yang ekstrem.

Gen Z dan Budaya Kasur

Data menunjukkan bahwa tren ini bukan sekadar luapan konten di media sosial semata. Berdasarkan survei tahun 2024 dari American Academy of Sleep Medicine (AASM), sekitar 37 persen warga Amerika telah mencoba tren tidur viral ini. Angka tersebut melonjak tajam pada kalangan Gen Z, di mana 55 persen di antaranya mengaku pernah mempraktikkan bed rotting.

Hasil studi ini mencerminkan pergeseran besar dalam cara anak muda menggunakan waktu istirahat mereka. Banyak dari mereka menghabiskan waktu setidaknya 30 menit di atas kasur sebelum benar-benar tidur, dan melakukan hal serupa di pagi hari sebelum beranjak bangun. Perilaku ini perlahan mengubah fungsi kamar tidur yang seharusnya menjadi tempat sakral untuk beristirahat.

Baca Juga  Menguak Mitos Tempe dan Asam Urat: Benarkah Harus Dihindari atau Justru Menyehatkan?

Risiko Tersembunyi: Dari Insomnia hingga Depresi

Kesenangan sesaat ini bisa berubah menjadi bumerang jika dilakukan tanpa kendali. Dr. Ryan Sultan, profesor psikiatri klinis dari Columbia University, memperingatkan bahwa jika aktivitas ini berlangsung lebih dari satu atau dua hari, maka sudah saatnya kita waspada. “Jika bed rotting menjadi sebuah kebiasaan atau habituasi, hal itu berpotensi menjadi tanda awal gejala depresi atau masalah kesehatan mental lainnya,” tegas Dr. Sultan.

Selain risiko mental, kualitas tidur juga menjadi taruhannya. Dr. Anne Marie Morse dari AASM mengingatkan bahwa otak manusia perlu mengasosiasikan tempat tidur hanya untuk tidur dan keintiman. Jika kita terbiasa melakukan aktivitas terjaga di sana, otak akan mengalami kebingungan sinyal yang puncaknya bisa memicu gangguan tidur atau insomnia kronis.

Baca Juga  Waspada El Nino 'Godzilla': Strategi Asupan Nutrisi Agar Tubuh Tetap Terhidrasi di Tengah Cuaca Ekstrem

Lebih jauh lagi, Hollingshead menyoroti bahaya isolasi sosial. Apa yang awalnya diniatkan sebagai self-care bisa berubah menjadi lingkaran setan. Berkurangnya aktivitas fisik dan sosial justru meningkatkan risiko perasaan kesepian yang memperburuk kondisi psikologis seseorang. Oleh karena itu, penting untuk tetap menjaga keseimbangan antara waktu istirahat dan interaksi dengan dunia luar agar ranjang tidak benar-benar menjadi tempat kita “membusuk”.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid