Mitos atau Fakta: Benarkah Konsumsi Keju Berbahaya bagi Kadar Kolesterol Anda?
Sabtu, 13 Jun 2026 08:33 WIB
Kabarmalam.com — Bagi banyak pejuang kesehatan yang bergulat dengan riwayat kolesterol tinggi, keju sering kali menjadi daftar pertama yang dieliminasi dari menu harian. Reputasinya sebagai makanan padat lemak jenuh menjadikannya kambing hitam atas melonjaknya kadar LDL (Low Density Lipoprotein) atau yang lazim kita kenal sebagai kolesterol jahat. Namun, benarkah keju seburuk itu bagi kesehatan jantung kita?
Penelitian terbaru mengungkapkan realita yang jauh lebih bernuansa. Ternyata, hubungan antara keju dan kesehatan kardiovaskular tidaklah sesederhana hitung-hitungan kandungan lemak di atas kertas. Para ilmuwan kini mulai melihat bahwa efek sebuah makanan terhadap tubuh manusia dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari struktur molekul hingga pola makan secara menyeluruh.
Mengapa Keju Sering Mendapat Rapor Merah?
Selama puluhan tahun, pedoman kesehatan dari berbagai organisasi dunia, termasuk World Health Organization (WHO), konsisten menyarankan pembatasan lemak jenuh. Logikanya linear: lemak jenuh meningkatkan kolesterol darah, dan kolesterol tinggi memicu penyakit jantung. Karena keju adalah produk olahan susu yang kaya lemak, ia pun otomatis dianggap sebagai pemicu utama kenaikan kolesterol jahat.
Akan tetapi, sebuah tinjauan ilmiah yang dipimpin oleh Thorning dkk. dalam American Journal of Clinical Nutrition (2021) mulai mematahkan paradigma lama ini. Para peneliti berpendapat bahwa kita tidak bisa menilai dampak kesehatan suatu makanan hanya dari satu zat gizi tunggal. Muncul sebuah konsep penting yang disebut sebagai food matrix atau matriks makanan.
Kekuatan Matriks Makanan: Keju vs Mentega
Salah satu temuan paling mengejutkan muncul ketika keju dibandingkan dengan mentega. Meski keduanya sama-sama berasal dari lemak susu, dampaknya terhadap tubuh ternyata sangat berbeda. Dalam sebuah studi yang dipublikasikan pada tahun 2011 oleh Janne Hjerpsted, ditemukan bahwa peserta yang mengonsumsi keju selama enam minggu memiliki kadar LDL yang lebih rendah dibandingkan mereka yang mengonsumsi mentega dengan jumlah lemak yang sama.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya terletak pada proses pembuatan dan struktur fisik keju itu sendiri. Proses fermentasi, kandungan kalsium yang tinggi, serta protein dalam keju diyakini memengaruhi cara tubuh menyerap lemak. Singkatnya, tubuh tidak mengolah lemak dalam keju secepat atau semasif lemak dalam mentega. Hal ini memperkuat teori bahwa kesehatan jantung tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita makan, tetapi bagaimana makanan tersebut tersusun secara biologis.
Melihat Gambar Besar: Pola Makan yang Seimbang
Meta-analisis oleh Alexander dkk. (2016) dalam European Journal of Nutrition juga memberikan angin segar bagi para pecinta keju. Setelah membedah berbagai data observasional, mereka menyimpulkan bahwa konsumsi keju dalam batas wajar tidak berkorelasi langsung dengan peningkatan risiko penyakit jantung koroner. Ini membuktikan bahwa keju bukanlah musuh utama yang harus ditakuti secara berlebihan.
Namun, redaksi Kabarmalam.com tetap mengingatkan bahwa ini bukan berarti Anda boleh mengonsumsi keju tanpa kendali. Keju tetap mengandung kalori yang tinggi dan natrium yang perlu diperhatikan, terutama bagi penderita hipertensi. Kunci utamanya tetap pada moderasi dan pola makan sehat yang seimbang.
Jadi, apakah keju bikin kolesterol naik? Jawabannya: tergantung pada porsi dan gaya hidup Anda secara keseluruhan. Keju bisa tetap menjadi bagian dari diet sehat asalkan tidak dikonsumsi secara berlebihan dan tetap diimbangi dengan asupan serat dari sayur dan buah. Kesehatan adalah investasi jangka panjang, dan memahami apa yang masuk ke dalam tubuh adalah langkah awal yang paling bijak.