Ikuti Kami
kabarmalam.com

Belajar dari Viktor Axelsen, Kenali Sinyal Saraf Kejepit yang Sering Diabaikan Saat Berolahraga

Wahid | kabarmalam.com
Sabtu, 18 Apr 2026 06:37 WIB
Belajar dari Viktor Axelsen, Kenali Sinyal Saraf Kejepit yang Sering Diabaikan Saat Berolahraga

Kabarmalam.com — Aktivitas fisik memang menjadi pilar utama gaya hidup sehat, namun di balik semangat membakar kalori, terselip risiko kesehatan yang sering kali disepelekan. Bahkan, atlet profesional selevel Viktor Axelsen pun tidak luput dari ancaman serius ini. Pebulutangkis legendaris tersebut harus berhadapan dengan kenyataan pahit untuk menepi akibat gangguan saraf kejepit yang mendera tubuhnya.

Kisah Axelsen menjadi pengingat bagi kita semua bahwa ambisi dalam berolahraga harus dibarengi dengan pemahaman tubuh yang baik. Menurut dr. Faisal M, SpBS, seorang pakar bedah saraf dari RS Lamina, kondisi yang secara medis disebut sebagai Hernia Nukleus Pulposus (HNP) atau saraf kejepit ini sebenarnya tidak terjadi secara instan.

Bukan Cedera Mendadak, Melainkan Akumulasi

Dr. Faisal menjelaskan bahwa cedera tulang belakang sering kali merupakan hasil dari tumpukan cedera kecil yang terjadi secara berulang dalam jangka waktu lama. Masalahnya, banyak orang yang tidak menyadari gejala awal karena rasa sakitnya sering kali dianggap sebagai nyeri otot biasa akibat kelelahan.

Baca Juga  Mengupas Mitos Gula Aren: Benarkah Lebih Sehat atau Sekadar Tren Kopi Kekinian?

“Kita harus bisa membedakan mana keluhan karena otot dan mana karena tulang. Jika pemicunya adalah otot, biasanya setelah beristirahat beberapa hari, mengonsumsi obat, atau menjalani fisioterapi, kondisi tubuh akan membaik dan nyaman kembali,” ungkap dr. Faisal dalam sebuah sesi wawancara.

Karakteristik Nyeri yang Patut Diwaspadai

Berbeda dengan pegal otot biasa, nyeri yang bersumber dari masalah tulang belakang atau bantalan saraf memiliki karakteristik unik, yakni polanya yang hilang-timbul. Rasa sakit ini bisa mereda sesaat, namun akan kembali muncul dengan intensitas yang sama atau bahkan lebih parah saat tubuh kembali melakukan aktivitas fisik.

“Sakitnya bolak-balik. Hari ini sakit, besok berkurang, tapi begitu ada aktivitas lagi, rasa nyeri itu muncul kembali. Inilah ciri khas jika masalahnya terletak pada tulang belakang,” jelasnya lebih lanjut. Nyeri akibat saraf juga cenderung terasa lebih intens dan tajam dibandingkan sekadar pegal otot.

Baca Juga  Hati-hati! Kombinasi Makanan Ini Ternyata Bisa Menghambat Penyerapan Zat Besi di Tubuh

Sinyal Bahaya: Nyeri yang Menjalar dan Kebas

Dr. Faisal juga mengingatkan masyarakat untuk tidak abai terhadap tanda-tanda yang mulai menjalar. Jika rasa sakit di area pinggang sudah mulai terasa hingga ke bagian bokong, paha, bahkan sampai ke betis, itu adalah alarm merah bahwa ada sesuatu yang salah pada saraf Anda. Munculnya sensasi kebas atau kesemutan yang terus-menerus juga menjadi indikator kuat adanya tekanan pada jalur saraf.

Pesan untuk ‘Weekend Warrior’

Bagi mereka yang hanya sempat melakukan olahraga berat di akhir pekan—atau yang sering dijuluki sebagai weekend warrior—dr. Faisal memberikan pesan krusial. Pemanasan sebelum memulai aktivitas adalah hal yang wajib dan tidak boleh dilewatkan. Selain itu, kejujuran terhadap kemampuan fisik sendiri sangatlah penting.

Baca Juga  Kisah Haru Rizki Mulyani: Perjuangan Melawan Kanker Payudara Stadium 4 di Usia Muda

“Jangan memaksakan diri melampaui batas. Misalkan kapasitas tubuh kita hanya sanggup berolahraga selama 30 menit, jangan dipaksakan menjadi dua jam hanya karena ingin cepat langsing. Jangan sampai keinginan untuk sehat malah berujung pada menyiksa diri sendiri,” pungkasnya. Memahami batasan tubuh adalah langkah awal untuk menghindari cedera saraf kejepit yang bisa mengubah hidup seseorang selamanya.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid