Perjuangan Ayah Korban Pelecehan di Pati: Melawan Intimidasi Demi Bongkar Kedok Predator Berjubah Kyai
Kamis, 07 Mei 2026 19:34 WIB
Kabarmalam.com — Di balik ketenangan sebuah Pondok Pesantren di Pati, Jawa Tengah, tersimpan sebuah rahasia kelam yang akhirnya menyeruak ke permukaan. Seorang ayah, dengan keberanian yang luar biasa, kini berdiri tegak menyuarakan keadilan bagi putrinya yang menjadi korban dugaan pelecehan seksual oleh pendiri sekaligus pimpinan pondok berinisial AS. Perjuangan ini bukan sekadar mencari kebenaran, melainkan sebuah pertaruhan melawan ancaman yang datang silih berganti.
Kisah memilukan ini bermula saat sang ayah mulai mengendus ketidakberesan melalui pengakuan sang anak. Tak ingin gegabah, ia secara mandiri melakukan penelusuran dengan mendatangi teman-teman putrinya di pesantren tersebut. Betapa hancur hatinya saat mendapati fakta bahwa pola pelecehan yang diceritakan anaknya ternyata dialami oleh santriwati lainnya.
Melawan Tembok Intimidasi dan Ancaman
Langkah hukum telah ditempuh sang ayah sejak tahun 2024. Namun, menempuh jalur legal ternyata membawa konsekuensi berat bagi keluarganya. Sejak laporan dilayangkan ke Polres Pati, ia mengaku kerap mendapat tekanan dari pihak keluarga pelaku yang mencoba membungkam suaranya.
“Dalam proses setelah laporan itu, saya beberapa kali mendapatkan intimidasi dari keluarga pelaku. Termasuk ancaman langsung,” ungkapnya saat memberikan keterangan di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Namun, ancaman tersebut justru menjadi bahan bakar baginya untuk tidak mundur sejengkal pun. Baginya, kasus ini bukan hanya soal anaknya, melainkan tentang menyelamatkan generasi muda dari predator yang bersembunyi di balik status sosial.
Gerak-Gerik Mencurigakan yang Terkonfirmasi
Sang ayah membeberkan bahwa jauh sebelum kasus ini viral, ia sebenarnya sudah menaruh curiga pada perilaku AS. Sebagai orang yang sering berada di lingkungan sekitar, ia kerap melihat AS mengajak wanita-wanita yang bukan mahramnya pergi keluar dengan dalih kegiatan tertentu. Namun, kecurigaan itu baru benar-benar terbukti saat sang anak memberanikan diri bercerita kepada ibunya.
“Begitu anak saya cerita kepada ibunya, saya langsung sadar bahwa firasat saya selama ini benar. Saya langsung hubungi teman-temannya, dan ternyata mereka diperlakukan dengan cara yang sama keji,” tegasnya dengan nada getir.
Membuang Rasa Malu Demi Keadilan Kolektif
Awalnya, keluarga sempat didera rasa takut bahwa kasus ini akan dianggap sebagai aib yang memalukan di mata masyarakat. Namun, dorongan untuk melindungi korban-korban lain membuat sang ayah membuang jauh ego tersebut. Ia merangkul putrinya dan mengajak sang anak untuk berjihad melawan ketidakadilan demi kesejahteraan teman-teman sejawatnya.
“Saya bilang ke anak saya, ‘Bismillah Nduk, ayo berjuang untuk teman-temanmu’. Saya yakin ini akan membawa berkah dan keadilan bagi banyak orang,” tuturnya mengenang momen penguatan mental sang anak.
Kini, setelah kasus ini mencuat ke publik dan mendapat perhatian luas di media sosial, sang ayah mengaku merasakan kelegaan yang luar biasa. Dukungan dari masyarakat dan media massa seolah menjadi angin segar yang mengangkat beban berat di pundaknya selama bertahun-tahun. Perjuangan mencari keadilan ini masih panjang, namun langkah pertama telah diayunkan dengan penuh keberanian.