Ikuti Kami
kabarmalam.com

Wajah Baru Pasar Tradisional Surabaya: Suntikan Rp 18,9 Miliar untuk Transformasi Ekonomi Modern

Husnul | kabarmalam.com
Senin, 04 Mei 2026 19:34 WIB
Wajah Baru Pasar Tradisional Surabaya: Suntikan Rp 18,9 Miliar untuk Transformasi Ekonomi Modern

Kabarmalam.com — Langkah progresif Pemerintah Kota Surabaya dalam memoles wajah pasar rakyat melalui program revitalisasi besar-besaran mendapat apresiasi tinggi dari kalangan legislatif. Proyek ambisius yang menelan anggaran hingga Rp 18,9 miliar pada tahun ini diproyeksikan bukan sekadar perbaikan fisik, melainkan sebuah lompatan besar menuju manajemen pasar yang lebih modern dan profesional.

Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya, Arif Fathoni, menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan manifestasi nyata dari keberpihakan pemerintah terhadap penguatan ekonomi kerakyatan. Baginya, suntikan dana miliaran rupiah tersebut adalah jawaban atas stigma klasik yang selama ini melekat pada pasar tradisional, yakni kesan kumuh, becek, dan tidak tertata.

Melawan Stigma Kumuh dengan Modernisasi

“Selama ini, citra pasar tradisional kita identik dengan kondisi yang kurang bersih. Revitalisasi pasar ini harus menjadi momentum emas untuk menghapus persepsi negatif tersebut secara total,” ujar Arif Fathoni saat ditemui di gedung DPRD Kota Surabaya, Senin (4/5/2026).

Baca Juga  Ahmad Luthfi Instruksikan Bank Jateng Prioritaskan KUR Demi Hidupkan Ekonomi Kerakyatan

Namun, Fathoni mengingatkan bahwa keberhasilan program ini tidak boleh hanya diukur dari kemegahan bangunan semata. Ia menekankan agar Perusahaan Daerah (PD) Pasar Surya, selaku nakhoda pengelola, segera melakukan rebranding total terhadap sistem manajemen mereka. Menurutnya, mengelola pasar di era sekarang tidak bisa lagi menggunakan cara-cara lama yang bersifat ‘autopilot’.

Adaptasi Digital: Dari Lapak ke Layar Gadget

Dalam pandangan politisi Fraksi Golkar ini, pasar tradisional harus mulai akrab dengan teknologi untuk membantu pemasaran para pedagang. Ia mencontohkan geliat Pasar Tanah Abang di Jakarta yang mulai bertransformasi dengan memanfaatkan fitur live streaming di berbagai platform media sosial.

“Pedagang era sekarang dituntut untuk adaptif. Pemanfaatan platform seperti TikTok atau siaran langsung (live streaming) adalah kunci untuk menghidupkan kembali denyut nadi ekonomi pasar. Ini bukan lagi pilihan, tapi keharusan,” jelas Fathoni dengan nada optimis.

Baca Juga  Trump Beri Sinyal Negosiasi Kilat dengan Iran di Tengah Ketegangan Blokade Pelabuhan

Ia juga mendorong PD Pasar untuk menggandeng para konten kreator guna memperkuat promosi serta mengubah perspektif publik terhadap pasar rakyat. Tak hanya soal promosi, edukasi berkelanjutan bagi pedagang mengenai pengemasan produk (packaging) hingga menjaga kebersihan lapak menjadi poin krusial yang tidak boleh terabaikan.

Otokritik bagi Pengelola Pasar

Fathoni juga melontarkan kritik konstruktif terkait fenomena ‘pasar krempyeng’ atau pasar rakyat mandiri yang seringkali justru lebih ramai dan hidup dibandingkan pasar resmi di bawah naungan pemerintah. Menurutnya, hal ini harus menjadi bahan evaluasi serius bagi pengelola pasar di Surabaya.

“Sangat ironis jika pasar yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat bisa lebih ramai. Ini adalah otokritik bagi kita semua. Jangan sampai komitmen besar pemerintah kota tidak disambut dengan kinerja proaktif dari PD Pasar,” tegasnya.

Baca Juga  Kemenkop Perkuat Transformasi Tambang di NTB: Dorong Koperasi Jadi Pemain Utama Sektor Minerba

Dengan integrasi antara infrastruktur yang bersih, manajemen yang melek teknologi, dan pedagang yang adaptif, Fathoni berharap Surabaya dapat menjadi barometer nasional dalam pengelolaan modernisasi pasar rakyat. Sebuah visi di mana ekonomi tradisional mampu bersanding harmonis dengan kemajuan teknologi digital.

Tentang Penulis
Husnul
Husnul