Update Tragedi Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek: Hasil Tes Urine Sopir Taksi Negatif, Polisi Periksa 31 Saksi
Minggu, 03 Mei 2026 05:34 WIB
Kabarmalam.com — Tabir gelap di balik insiden maut yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di kawasan Bekasi mulai tersingkap satu per satu. Fokus penyelidikan kini mengarah pada kondisi fisik pengemudi taksi Green SM berinisial RRP yang mobilnya menjadi pemicu awal rangkaian kecelakaan fatal tersebut. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis terbaru, pihak kepolisian memastikan bahwa sang sopir tidak dalam pengaruh zat adiktif saat peristiwa nahas itu terjadi.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, mengungkapkan bahwa tes urine terhadap RRP telah tuntas dilakukan. Hasilnya menunjukkan negatif terhadap kandungan alkohol maupun narkoba. Meski demikian, hingga saat ini status hukum RRP masih ditetapkan sebagai saksi dalam rentetan kecelakaan kereta yang menggemparkan publik tersebut.
Skala Penyelidikan Masif: 31 Saksi Telah Diperiksa
Langkah kepolisian dalam mengusut tuntas tragedi ini tidak main-main. Hingga Minggu (3/5/2026), penyidik telah mengumpulkan keterangan dari 31 orang saksi. Mereka terdiri dari berbagai elemen, mulai dari pelapor, penjaga perlintasan, warga di sekitar lokasi kejadian, hingga petugas operasional dari pihak PT KAI.
“Penyidik bergerak cepat mengumpulkan fakta objektif dari lapangan. Kami telah meminta keterangan dari pengemudi taksi, para korban yang selamat, serta pihak-pihak lain yang melihat langsung bagaimana peristiwa tersebut bermula,” tutur Kombes Budi Hermanto dalam keterangan resminya.
Kronologi Rantai Tragedi di Bekasi Timur
Peristiwa memilukan ini bermula pada Senin malam di dekat Stasiun Bekasi Timur. Sebuah unit taksi Green SM tiba-tiba mengalami kendala teknis berupa korsleting listrik yang membuatnya mogok tepat di tengah rel. Di saat yang bersamaan, sebuah rangkaian KRL melaju dari arah Cikarang menuju Jakarta dan tak terhindarkan menabrak taksi tersebut.
Dampak benturan tersebut membuat KRL berhenti darurat di tengah lintasan. Situasi semakin pelik ketika rangkaian KRL lain dari arah berlawanan juga terhenti akibat insiden pertama. Di tengah kondisi sirkulasi kereta yang kacau inilah, KA Argo Bromo Anggrek yang melaju kencang dari arah Jakarta menghantam rangkaian KRL yang tengah terhenti. Tragedi berantai ini memakan korban jiwa sebanyak 16 orang meninggal dunia dan menyebabkan 90 orang lainnya luka-luka.
Audit Perusahaan dan Instansi Terkait
Penyelidikan tidak berhenti pada individu sopir semata. Pihak kepolisian berencana melakukan audit mendalam terhadap manajemen operasional armada taksi tersebut. Pada Senin (4/5) mendatang, tim penyidik dijadwalkan memanggil manajemen Green SM serta Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kemenhub.
Tak hanya itu, koordinasi dengan Dinas Tata Ruang dan Dinas Pekerjaan Umum juga akan dilakukan untuk mengevaluasi infrastruktur di sekitar lokasi kejadian. Langkah ini diambil guna memperoleh gambaran utuh mengenai faktor-faktor penyebab kecelakaan, baik dari sisi kelalaian manusia, kegagalan mekanis, maupun kondisi lingkungan perkeretaapian guna melengkapi berkas penyelidikan polisi.
Investigasi mendalam ini menjadi harapan bagi para korban untuk mendapatkan keadilan dan menjadi bahan evaluasi besar bagi sistem keamanan transportasi publik di Indonesia, khususnya di wilayah operasional Jabodetabek.