Potret Kelam May Day Bandung: 6 Pelajar Jadi Tersangka Kericuhan, Positif Tramadol dan Psikotropika
Sabtu, 02 Mei 2026 21:37 WIB
Kabarmalam.com — Perayaan Hari Buruh Internasional atau May Day di Kota Bandung yang seharusnya berlangsung kondusif, justru menyisakan catatan kelam. Enam orang pelajar kini resmi menyandang status tersangka setelah terlibat dalam aksi kericuhan yang pecah di kawasan Jalan Tamansari. Mirisnya, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa aksi anarkis yang mereka lakukan dipicu oleh pengaruh obat-obatan keras.
Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Hendra Rochmawan, mengungkapkan keprihatinannya atas keterlibatan para remaja ini dalam tindakan kriminal. Berdasarkan tes urine, keenam pelajar tersebut terbukti positif mengonsumsi Tramadol, sebuah jenis obat keras yang penggunaannya seharusnya diawasi ketat secara medis. “Kondisi ini sungguh sangat memprihatinkan. Selain melakukan tindakan yang merusak, mereka berada di bawah pengaruh obat terlarang saat melancarkan aksinya,” tegas Hendra dalam keterangan resminya.
Temuan Psikotropika dan Simbol Perlawanan
Pihak kepolisian tidak hanya berhenti pada temuan penggunaan Tramadol. Dalam penggeledahan intensif yang dilakukan, petugas menemukan berbagai barang bukti lain yang semakin memperkeruh situasi. Dari tangan salah satu pelaku, polisi mengamankan sejumlah butiran psikotropika golongan keras, termasuk Alprazolam, Mersi, Euforis, hingga Risperidon.
Tak hanya barang bukti zat kimia, aparat juga menyita berbagai atribut yang mengarah pada identitas kelompok tertentu. Di dalam tas para pelaku, ditemukan simbol-simbol yang mengindikasikan gerakan ‘pelajar pembangkang’ dan kelompok antifasis. Fenomena ini memicu dugaan adanya doktrinasi atau pengaruh ideologi tertentu yang merasuki kalangan pelajar di Bandung untuk bertindak konfrontatif terhadap petugas di lapangan.
Dugaan Eksploitasi oleh Kelompok Tertentu
Hingga saat ini, Polda Jabar melalui Direktorat Reserse Narkoba terus mendalami asal-usul obat-obatan tersebut. Polisi mencurigai adanya aktor intelektual atau kelompok tertentu yang sengaja memanfaatkan energi para pelajar ini untuk menciptakan kekacauan di tengah massa aksi May Day.
“Kami akan menelusuri lebih jauh mengenai motif di balik penggunaan simbol-simbol perlawanan tersebut serta siapa yang menyuplai obat-obatan kepada mereka. Ada indikasi kuat bahwa kelompok tertentu mencoba menunggangi semangat anak muda ini untuk memicu kekerasan,” tambah Hendra.
Menutup keterangannya, pihak kepolisian memberikan imbauan keras kepada para orang tua di Jawa Barat. Pengawasan terhadap aktivitas dan pergaulan anak di luar rumah harus diperketat agar mereka tidak terjerumus ke dalam lingkaran narkoba maupun tindakan anarkisme yang dapat menghancurkan masa depan mereka sendiri.