Ketegangan Diplomatik Memuncak, Pentagon Putuskan Tarik 5.000 Tentara dari Jerman
Sabtu, 02 Mei 2026 06:06 WIB
Kabarmalam.com — Gelombang perubahan besar kembali menerjang peta kekuatan militer global. Departemen Pertahanan Amerika Serikat secara resmi mengumumkan kebijakan untuk menarik ribuan personel militer mereka yang selama ini bermarkas di wilayah Jerman. Langkah strategis ini menandai pergeseran signifikan dalam hubungan pertahanan antara Washington dan Berlin.
Juru bicara utama Pentagon, Sean Parnell, mengonfirmasi bahwa instruksi tersebut datang langsung dari otoritas tertinggi militer. Sebanyak 5.000 prajurit dijadwalkan akan segera meninggalkan pos mereka di Eropa untuk dipulangkan ke Amerika Serikat. Keputusan ini diambil di tengah dinamika politik yang kian memanas di panggung internasional.
Evaluasi Postur Kekuatan di Eropa
Berdasarkan catatan dari Pusat Data Tenaga Kerja Pertahanan AS per Desember 2025, Jerman masih menjadi rumah bagi setidaknya 36.436 personel militer Amerika. Dengan pemulangan 5.000 tentara ini, kekuatan militer AS di tanah Jerman akan menyusut menjadi sekitar 30.000 personel. Pentagon menegaskan bahwa proses transisi ini tidak akan dilakukan secara instan.
“Penarikan pasukan ini diperkirakan akan berlangsung secara bertahap dalam kurun waktu enam hingga dua belas bulan ke depan. Keputusan ini merupakan hasil tinjauan mendalam terhadap postur kekuatan Departemen di Eropa, sekaligus merespons kebutuhan teater dan kondisi rill di lapangan,” ungkap Parnell sebagaimana dihimpun oleh tim redaksi pada Sabtu (2/5/2026).
Buntut Kritik Pedas Terhadap Strategi Perang AS
Langkah drastis ini rupanya tidak terlepas dari sentimen politik antara kedua negara. Presiden Donald Trump, melalui unggahannya di platform Truth Social pada akhir April lalu, sempat memberikan sinyal bahwa pihaknya tengah mengevaluasi keberadaan pasukan di Jerman. Hal ini menyusul kritik terbuka yang dilontarkan oleh Kanselir Jerman, Friedrich Merz, terkait keterlibatan militer AS dalam konflik dengan Iran.
Kanselir Merz secara blak-blakan menyebut bahwa strategi yang dijalankan oleh pemerintahan Amerika Serikat tidak efektif dan justru membuat posisi negara tersebut terlihat lemah di mata dunia. Merz mengkritik absennya strategi konkret untuk mengakhiri peperangan yang berkecamuk di Timur Tengah tersebut.
Sikap kritis Berlin ini nampaknya memicu reaksi keras dari gedung putih. Fenomena ini seolah mengulang sejarah pada tahun 2020 silam, di mana Trump juga pernah melontarkan ancaman pengurangan pasukan serupa saat Angela Merkel masih menjabat sebagai Kanselir. Kini, ancaman tersebut benar-benar diwujudkan, mempertegas pesan politik dalam dinamika hubungan internasional yang semakin kompleks.