Ikuti Kami
kabarmalam.com

Kebuntuan Nuklir: Iran Tawarkan Jeda 5 Tahun, Amerika Serikat Ngotot Minta 20 Tahun

Husnul | kabarmalam.com
Selasa, 14 Apr 2026 14:34 WIB
Kebuntuan Nuklir: Iran Tawarkan Jeda 5 Tahun, Amerika Serikat Ngotot Minta 20 Tahun

Kabarmalam.com — Upaya meredam tensi nuklir di Timur Tengah kembali menemui jalan buntu setelah negosiasi intens antara Iran dan Amerika Serikat (AS) di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan berarti. Inti dari perselisihan panas ini terletak pada perbedaan durasi penghentian program pengayaan uranium yang diajukan oleh kedua belah pihak.

Berdasarkan penelusuran Kabarmalam.com, Teheran secara resmi menyodorkan proposal pembekuan aktivitas pengayaan uranium selama lima tahun. Namun, tawaran tersebut langsung dimentahkan oleh pemerintahan Washington yang menuntut komitmen penangguhan jauh lebih lama, yakni minimal 20 tahun.

Gagalnya Diplomasi di Islamabad

Kegagalan dalam mencapai titik temu di meja negosiasi damai akhir pekan lalu memicu reaksi keras dari Gedung Putih. Sebagai langkah balasan atas buntunya kesepakatan, Presiden AS Donald Trump dilaporkan telah menginstruksikan langkah drastis berupa blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan strategis Iran guna menekan posisi Teheran.

Baca Juga  Nasib Kuba di Ujung Tanduk? Trump Sebut Tak Bisa Hidup Tanpa Minyak Venezuela

Laporan eksklusif yang dikutip Kabarmalam.com dari New York Times mengungkapkan bahwa perbedaan jangka waktu ini menjadi jurang pemisah yang sulit dijembatani. Pihak Iran merasa periode lima tahun sudah cukup sebagai bentuk itikad baik, sementara Washington memandang durasi tersebut terlalu singkat untuk memberikan jaminan keamanan global dari ancaman senjata nuklir.

Sengketa Pemindahan Pasokan Uranium

Selain perdebatan soal waktu, isu krusial lainnya adalah nasib stok uranium yang sudah diperkaya tinggi. Amerika Serikat mendesak agar seluruh pasokan tersebut dikeluarkan dari wilayah Iran demi alasan keamanan. Namun, Teheran menolak keras tuntutan tersebut dan bersikeras mempertahankan simpanan mereka di dalam negeri.

Sebagai jalan tengah, pihak Iran menawarkan opsi untuk mengencerkan uranium tersebut secara signifikan hingga ke tingkat yang tidak dapat digunakan untuk keperluan militer. Kendati demikian, para pejabat senior di Washington tetap menunjukkan sikap skeptis. Mereka khawatir Iran akan tetap memiliki kapasitas teknis untuk menghidupkan kembali program nuklir mereka dengan cepat di masa mendatang.

Baca Juga  Drama Penyelamatan 3 ABK WNI Pasca Serangan Rudal di Laut Arab: KJRI Karachi Kawal Kepulangan ke RI

JD Vance: “Bola Kini Ada di Tangan Iran”

Wakil Presiden AS, JD Vance, yang memimpin langsung delegasi Washington di Pakistan, menyatakan bahwa sebenarnya terdapat kemajuan kecil dalam diskusi tersebut. Ia menyebut telah terjadi “percakapan yang konstruktif” dengan perwakilan Iran, namun hasil akhirnya masih jauh dari harapan AS.

“Kami melihat ada kemauan dari pihak Iran untuk menyesuaikan posisi mereka, tetapi pergerakan tersebut belum cukup jauh,” tegas Vance dalam wawancara dengan Fox News. Ia juga menambahkan bahwa kelanjutan proses diplomasi ini sepenuhnya bergantung pada fleksibilitas pemerintah Iran di masa mendatang.

Hingga saat ini, belum ada kesepakatan mengenai jadwal putaran negosiasi tatap muka berikutnya. Dunia kini menanti apakah jalur diplomasi masih memungkinkan, ataukah eskalasi ekonomi dan militer akan semakin tajam menyusul perintah blokade dari Donald Trump.

Baca Juga  Waspada! Virus Nipah Mengancam Dunia, Bisa Sebabkan Radang Otak Hingga Kematian Fatal
Tentang Penulis
Husnul
Husnul