Trump Ancam Tarik Pasukan dari Jerman, Hubungan Washington-Berlin Memanas Akibat Isu Iran
Kamis, 30 Apr 2026 11:34 WIB
Kabarmalam.com — Eskalasi ketegangan diplomatik kembali menyelimuti hubungan antara Amerika Serikat dan Jerman. Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa negaranya kini tengah mempertimbangkan langkah serius untuk memangkas jumlah personel militer mereka yang ditempatkan di tanah Jerman. Langkah ini diambil di tengah keretakan hubungan dengan Kanselir Jerman, Friedrich Merz, terkait perbedaan pandangan yang tajam mengenai konflik di Iran.
Sinyal Penarikan Lewat Truth Social
Melalui platform media sosial miliknya, Truth Social, Trump mengungkapkan bahwa proses peninjauan terhadap keberadaan militer AS di Jerman sedang berlangsung. Keputusan final mengenai pengurangan pasukan ini kabarnya akan diumumkan dalam waktu dekat. Pernyataan ini sontak memicu spekulasi mengenai masa depan stabilitas keamanan di kawasan Eropa Barat.
Hingga tahun 2024, data dari Layanan Penelitian Kongres mencatat ada lebih dari 35.000 tentara AS yang bermarkas di Jerman. Namun, laporan media lokal Jerman mengindikasikan angka tersebut sebenarnya jauh lebih besar, bahkan diperkirakan mendekati 50.000 personel. Kehadiran militer ini selama ini dianggap sebagai pilar utama pertahanan NATO di Eropa.
Buntut Perselisihan dengan Kanselir Merz
Ketegangan ini bukan tanpa alasan. Donald Trump dilaporkan meradang setelah Kanselir Friedrich Merz melontarkan kritik pedas yang menyebut bahwa Iran telah mempermalukan Washington di meja perundingan. Menanggapi hal tersebut, Trump menuding Merz tidak memahami realitas geopolitik, bahkan menuduh sang Kanselir bersikap lunak terhadap kepemilikan senjata nuklir Iran.
Perselisihan ini semakin meruncing karena Washington merasa Berlin tidak memberikan dukungan yang cukup terhadap strategi politik luar negeri AS, terutama terkait perang dengan Iran dan pengamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Trump tampaknya ingin memberikan “pelajaran” bagi sekutu-sekutunya yang dianggap tidak berkontribusi maksimal dalam aliansi militer tersebut.
Dilema Diplomasi dan Nasib Aliansi
Meski suasana memanas, Kanselir Merz mencoba meredam situasi dalam konferensi pers di Berlin. Ia bersikeras bahwa hubungan pribadinya dengan Trump tetap terjaga dengan baik. Namun, Merz tidak menampik bahwa dirinya sejak awal menaruh keraguan besar terhadap keterlibatan AS-Israel dalam konflik Iran, mengingat dampak ekonomi dan keamanan yang harus ditanggung oleh negara-negara Eropa.
Fenomena ini menunjukkan tren baru dalam kebijakan luar negeri AS yang lebih transaksional. Jerman bukan satu-satunya sasaran; laporan terbaru bahkan menyebutkan kemungkinan penangguhan keanggotaan Spanyol dari NATO jika tidak sejalan dengan visi keamanan Washington. Situasi ini menempatkan masa depan kerja sama transatlantik dalam ketidakpastian besar.