Tensi Memanas di Perbatasan: Israel Siapkan ‘Doktrin Dahiyeh’ Usai Serangan Drone Hizbullah
Minggu, 14 Jun 2026 16:03 WIB
Kabarmalam.com — Eskalasi ketegangan di wilayah perbatasan utara Israel kembali mencapai titik kritis. Laporan terbaru mengonfirmasi adanya penyusupan dua unit wahana udara nirawak (drone) yang diduga kuat diluncurkan oleh kelompok militan Hizbullah dari arah Lebanon. Meski serangan ini terdeteksi menghantam area sensitif di dekat garis perbatasan, militer Israel memastikan bahwa tidak ada korban jiwa yang jatuh dalam insiden tersebut.
Sinyal Balasan: Ancaman Terhadap Benteng Hizbullah
Menanggapi aksi provokasi tersebut, internal pemerintahan Israel mulai bergejolak. Dua menteri dari faksi sayap kanan secara terbuka mendesak dilakukannya serangan balasan yang masif ke wilayah pinggiran selatan Beirut, yang dikenal sebagai Dahiyeh. Wilayah ini secara luas diidentifikasi sebagai markas besar dan jantung pertahanan Hizbullah di Lebanon.
Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, menegaskan bahwa serangan di komunitas utara merupakan ujian nyata bagi keamanan nasional. Ia menyerukan agar Perdana Menteri segera menerapkan Doktrin Dahiyeh secara tegas, sebuah strategi militer yang menargetkan penghancuran infrastruktur sebagai bentuk efek gentar yang maksimal.
Senada dengan hal itu, Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir juga menyuarakan retorika keras. Dalam pernyataannya, ia menekankan bahwa setiap pelanggaran kedaulatan, baik melalui drone maupun proyektil lainnya, harus dibalas dengan kekuatan penuh. “Untuk setiap UAV, Dahiyeh harus gemetar,” tegasnya, mengisyaratkan bahwa operasi militer skala besar mungkin akan segera pecah.
Instruksi Evakuasi: 29 Kota di Lebanon Selatan Dalam Bahaya
Di tengah persiapan serangan balasan ini, militer Israel telah mengeluarkan perintah pengungsian paksa bagi warga sipil di puluhan titik di Lebanon Selatan. Langkah ini dipandang sebagai tanda awal bahwa operasi udara atau darat yang lebih luas akan segera dilancarkan untuk melumpuhkan kekuatan Hizbullah. Tercatat sedikitnya 29 lokasi strategis menjadi sasaran peringatan evakuasi ini.
Instruksi darurat tersebut mencakup 25 wilayah di distrik Nabatieh dan empat lokasi di distrik Sidon. Penduduk di kota-kota seperti Jbaa, Houmin al-Tahta, Ansar, hingga Kfar Sir diperintahkan untuk segera bergerak ke arah utara melintasi Sungai Zahrani demi menghindari zona pertempuran yang diprediksi akan menjadi sangat mematikan.
Potensi Perang Terbuka yang Meluas
Situasi di Lebanon kini semakin mencekam seiring dengan meningkatnya aktivitas militer di kedua belah pihak. Bagi para pengamat internasional, ancaman Israel untuk menghantam Dahiyeh bukan sekadar gertakan politik semata. Dengan dukungan yang diklaim telah dikoordinasikan dengan sekutu, Israel tampaknya siap menanggung risiko dari konflik Timur Tengah yang lebih luas demi mengamankan wilayah utaranya.
Hingga saat ini, dunia internasional terus memantau dengan cemas pergerakan di perbatasan, sembari berharap adanya intervensi diplomatik guna mencegah jatuhnya korban sipil yang lebih besar di wilayah yang sudah lama terkoyak oleh ketidakstabilan ini.