Houthi Yaman Siaga Tempur: Ancaman Blokade Selat Bab al-Mandeb Bayangi AS dan Israel
Minggu, 19 Apr 2026 16:35 WIB
Kabarmalam.com — Eskalasi ketegangan di kawasan semenanjung Arab kini memasuki fase kritis yang mengkhawatirkan. Kelompok Houthi di Yaman secara resmi mengumumkan status siaga tinggi sebagai langkah antisipasi terhadap potensi agresi militer dari Amerika Serikat dan Israel. Langkah ini diambil di tengah memanasnya peta geopolitik global yang kian tak menentu.
Kesiapan Militer dan Seruan Persatuan
Menteri Pertahanan dalam pemerintahan yang dipimpin Houthi, Mayor Jenderal Mohammed al-Atifi, menegaskan bahwa seluruh elemen kekuatan mereka kini berada dalam posisi siap tempur. Al-Atifi mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk merapatkan barisan dalam menghadapi ancaman serangan luar yang dinilai dapat merusak kedaulatan rakyat Yaman. Menurutnya, fase konflik Timur Tengah terbaru ini merupakan ajang pembuktian bagi efektivitas operasi militer dari poros perlawanan terhadap kekuatan Barat.
Sejak menyatakan keterlibatan aktif dalam pusaran konflik melawan Israel pada akhir Maret lalu, Houthi telah mendemonstrasikan kapabilitas militernya. Berbagai rudal balistik jarak jauh serta armada drone canggih telah dikerahkan untuk menyasar titik-titik sensitif di wilayah Israel. Mereka berkomitmen untuk terus melancarkan serangan strategis selama agresi militer di kawasan tersebut tidak dihentikan.
Peringatan Keras di Selat Bab al-Mandeb
Salah satu poin paling krusial yang menjadi perhatian internasional adalah ancaman penutupan Selat Bab al-Mandeb. Jalur ini merupakan urat nadi perdagangan maritim dunia yang sangat vital. Wakil Menteri Luar Negeri Houthi, Hussein al-Ezzi, melontarkan peringatan pedas yang ditujukan secara spesifik kepada Donald Trump agar tidak menghalangi proses perdamaian yang tengah diupayakan.
Dalam sebuah pernyataan yang cukup provokatif, Al-Ezzi mengeklaim bahwa jika Houthi benar-benar memutuskan untuk menutup akses di Bab al-Mandeb, maka tidak akan ada kekuatan di dunia ini yang sanggup membukanya kembali. Ia mendesak pihak Barat untuk segera meninggalkan kebijakan-kebijakan yang menghambat perdamaian dan mulai menunjukkan rasa hormat terhadap hak-hak bangsa Yaman.
Ketegangan ini diprediksi akan berdampak luas pada stabilitas keamanan laut internasional, terutama di Laut Merah, jika negosiasi diplomatik tidak segera menemui titik terang. Keberanian Houthi dalam menantang dominasi militer AS dan Israel menunjukkan bahwa peta kekuatan di kawasan tersebut telah mengalami pergeseran yang signifikan.