Ikuti Kami
kabarmalam.com

Wacana Kenaikan Tarif Transjabodetabek: Warga Mengeluh Beban Ekonomi Semakin Menghimpit

Husnul | kabarmalam.com
Minggu, 14 Jun 2026 15:33 WIB
Wacana Kenaikan Tarif Transjabodetabek: Warga Mengeluh Beban Ekonomi Semakin Menghimpit

Kabarmalam.com — Rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk melakukan penyesuaian harga tiket atau kenaikan tarif layanan bus Transjabodetabek mulai memicu riak keresahan di tengah masyarakat pengguna setia moda transportasi publik tersebut. Bagi banyak kaum komuter, kebijakan ini dipandang sebagai ancaman baru terhadap stabilitas finansial harian mereka di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.

Salah satu suara penolakan datang dari Maria, seorang warga Rawa Buaya, Jakarta Barat. Sebagai pengguna aktif yang mengandalkan jalur Blok M hingga ke Bogor untuk urusan pekerjaan maupun sekadar bersosialisasi dengan kerabat, Maria merasa wacana ini akan berdampak sistemik pada pengeluarannya. Ia kerap menempuh perjalanan jauh demi menemui temannya yang tinggal di kawasan kos-kosan di Bogor.

Baca Juga  Pramono Anung Undang Presiden Prabowo Resmikan Wajah Baru Rasuna Said Bebas Tiang Monorel Juni Mendatang

“Tentu akan sangat berpengaruh. Saya sering sekali bolak-balik ke Bogor karena ada teman kuliah di sana. Jika tarifnya naik, otomatis biaya hidup atau cost living saya setiap bulan bakal berantakan,” ujar Maria saat ditemui di kawasan Blok M pada Minggu (14/6/2026).

Dilema Pekerja dan Penghuni Kos

Bagi Maria, tarif flat Rp 3.500 yang berlaku saat ini adalah angka keramat yang sudah ia kalkulasi dengan cermat dalam anggaran bulannya. Sebagai pekerja yang juga menyewa tempat tinggal, setiap rupiah sangat berarti untuk menyambung hidup dari satu gajian ke gajian berikutnya.

“Harapan saya, kalau bisa jangan sampai naik. Angka Rp 3.500 itu sudah saya hitung detil untuk sebulan, baik untuk hari kerja maupun akhir pekan. Transportasi publik seperti Transjabodetabek atau Transjakarta adalah pilihan utama karena murah dan aksesnya mudah. Kalau naik, beban kami makin berat,” tuturnya dengan nada khawatir.

Baca Juga  Terkuak! SDA Beberkan Alasan Aliran Air Begitu Deras di Bawah Jalan Amblas Lenteng Agung

Usulan Tarif Rasional di Tengah Kenaikan BBM

Di sisi lain, tidak semua warga menolak secara mutlak. Annisa, seorang komuter asal Banten yang sesekali memanfaatkan layanan ini, mencoba bersikap lebih pragmatis. Ia menyadari bahwa kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) seringkali menjadi pemicu otomatis kenaikan biaya operasional transportasi publik.

Namun, Annisa memberikan catatan tegas: kenaikan tersebut harus tetap dalam batas kewajaran agar tidak mencekik kelompok ibu rumah tangga dan pekerja kelas menengah ke bawah. Menurutnya, angka Rp 5.000 adalah batas maksimal yang masih bisa ditoleransi oleh kantong masyarakat.

“Kenaikan itu sebenarnya masuk akal karena BBM juga naik. Tapi ya jangan terlalu tinggi. Harapan kami para ibu rumah tangga, harganya tetap terjangkau. Kalau naik ke angka Rp 5.000 mungkin masih dianggap standar dan wajar,” jelas Annisa saat memberikan pandangannya mengenai kebijakan transportasi tersebut.

Baca Juga  Dilema Tarif Transjakarta: Akankah Harga Tiket Rp 3.500 Segera Berakhir Setelah 21 Tahun?

Hingga saat ini, perdebatan mengenai besaran subsidi dan penyesuaian tarif masih menjadi pembahasan hangat di tingkat regulasi. Masyarakat berharap pemerintah dapat menemukan jalan tengah yang tidak hanya menjaga keberlangsungan operasional armada, tetapi juga tetap melindungi daya beli warga yang setiap harinya menggantungkan mobilitas pada jalur-jalur Transjabodetabek.

Tentang Penulis
Husnul
Husnul