Transformasi Intelektual Polri: Menilik 200 Polisi Bergelar Doktor yang Siap Ubah Wajah Humanis Korps Bhayangkara
Rabu, 17 Jun 2026 16:04 WIB
Kabarmalam.com — Wajah kepolisian Indonesia kini tengah bersalin rupa menjadi lebih intelektual dan humanis. Citra aparat yang hanya mengandalkan kekuatan fisik perlahan mulai bergeser dengan hadirnya ratusan perwira berpendidikan tinggi. Tak tanggung-tanggung, tercatat ada sekitar 200 anggota institusi Polri yang kini telah menyandang gelar Doktor (S3).
Intelektualitas yang Bukan Sekadar Seremonial
Guru Besar Lemdiklat Polri, Profesor Hermawan Sulistyo, menegaskan bahwa pencapaian akademik para perwira ini bukanlah hasil instan atau sekadar formalitas. Dalam suasana khidmat usai prosesi wisuda dan perayaan Dies Natalis ke-80 Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) pada Rabu lalu, Hermawan menjamin kualitas intelektual yang dimiliki anak didiknya.
“Pendidikan para perwira ini sangat tinggi. Saat ini, jumlah pemilik gelar S3 di tubuh Polri mencapai sekitar 200 orang. Saya pastikan, gelar doktor polisi tersebut benar-benar diraih melalui proses akademik yang valid, bukan gelar ‘odong-odong’ atau abal-abal,” tegas Hermawan dengan nada optimis.
Misi Besar: Mengubah Pendekatan Lapangan
Langkah besar sedang dipersiapkan oleh pihak kampus. Hermawan mengungkapkan bahwa dirinya tengah mengkurasi disertasi-disertasi terpilih milik para lulusan doktor tersebut untuk diterbitkan secara luas. Tujuannya jelas: agar pemikiran kritis para doktor ini bisa diimplementasikan dalam tugas sehari-hari.
Menurutnya, pendidikan tinggi harus berbanding lurus dengan kepekaan sosial. Ia memimpikan masa depan di mana seorang aparat tidak lagi mengedepankan kekerasan saat menghadapi dinamika di lapangan. “Harapannya, tidak ada lagi perwira bergelar doktor yang memimpin penanganan demonstrasi dengan cara kekerasan atau memerintahkan tindakan represif terhadap mahasiswa. Pendidikan ini harus merubah pola pikir tersebut,” tambahnya.
Tantangan Etika, Logika, dan Rasa
Senada dengan hal tersebut, Ketua STIK Lemdiklat Polri, Irjen Eko Rudi Sudarto, memaparkan visi besar lembaga pendidikan yang ia pimpin. Baginya, mencetak lulusan yang cerdas secara intelektual saja tidaklah cukup. Ada tantangan besar mengenai bagaimana menyeimbangkan kecerdasan tersebut dengan nurani.
“Kami menyadari masih ada deviasi dalam implementasi hasil didik di lapangan. Oleh karena itu, STIK fokus pada tiga pilar utama: etika, logika, dan rasa. Mungkin logikanya cerdas dan emosionalnya stabil, namun jika ‘rasa’ dan etikanya belum terasah, potensi pelanggaran masih akan tetap ada,” ujar Eko secara jujur.
Eko menegaskan bahwa lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab moral atas perilaku para lulusannya. Dengan memperkuat aspek etika profesi dan kepekaan sosial, diharapkan para polisi masa depan ini mampu menjadi pelindung masyarakat yang lebih beradab dan berintegritas tinggi di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.