Gempa Magnitudo 6,7 Guncang Palu, Satu Warga Sigi Meninggal Dunia dan Puluhan Lainnya Terluka
Rabu, 17 Jun 2026 01:34 WIB
Kabarmalam.com — Suasana duka menyelimuti wilayah Sulawesi Tengah setelah guncangan hebat melanda jantung Kota Palu dan sekitarnya. Peristiwa gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 6,7 yang terjadi baru-baru ini dilaporkan telah menelan korban jiwa serta menyebabkan puluhan warga mengalami luka-luka serius.
Berdasarkan data terbaru yang dihimpun tim redaksi hingga Selasa malam, seorang warga di Kabupaten Sigi dinyatakan meninggal dunia akibat musibah ini. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengonfirmasi bahwa dampak dari bencana ini terus meluas seiring dengan proses pendataan yang dilakukan oleh tim di lapangan.
Skala Dampak dan Korban Luka
Hingga saat ini, tercatat sedikitnya 110 kepala keluarga atau sekitar 312 jiwa terdampak langsung oleh guncangan tersebut. Di balik angka tersebut, terdapat kisah pilu warga yang harus berjuang mengobati luka. Sebanyak 25 orang dilaporkan mengalami luka ringan, sementara 13 lainnya harus mendapatkan perawatan intensif akibat luka berat yang diderita.
Kabupaten Sigi menjadi titik yang paling terdampak parah dalam peristiwa Sulawesi Tengah ini. Di wilayah tersebut, 89 kepala keluarga merasakan dampak langsung, dengan rincian 22 warga luka ringan dan 13 warga luka berat. Tak hanya Sigi, Kota Palu juga mencatat adanya dua korban luka ringan, disusul Kabupaten Parigi Moutong dan Poso yang juga melaporkan adanya warga terdampak yang masih dalam tahap pendataan mendalam.
Infrastruktur dan Pemukiman Porak-poranda
Kekuatan gempa tidak hanya mengguncang raga, tetapi juga meluluhlantakkan bangunan. Data sementara menunjukkan setidaknya 67 unit rumah warga mengalami kerusakan dengan berbagai tingkat keparahan. Dari jumlah tersebut, 12 rumah dikategorikan rusak berat, 6 rusak sedang, dan 26 unit lainnya mengalami rusak ringan.
Fasilitas publik pun tak luput dari amukan alam. Tercatat enam rumah ibadah, dua jembatan, gedung perkantoran, hingga fasilitas UMKM mengalami kerusakan. Bahkan, akses vital berupa jalan provinsi yang menghubungkan Palu, Sigi, dan Poso dilaporkan amblas, sehingga mengganggu arus transportasi antarwilayah.
“Kabupaten Sigi melaporkan kerusakan terbanyak, termasuk fasilitas ibadah dan gedung perkantoran. Sementara di Kota Palu, Jembatan III dilaporkan mengalami keretakan dan sebuah hotel turut terdampak guncangan,” ungkap Abdul Muhari dalam keterangan resminya kepada BNPB.
Langkah Tanggap Darurat dan Penanganan Medis
Merespons situasi genting ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama Tim Reaksi Cepat (TRC) bergerak cepat melakukan evakuasi dan kaji cepat. Pemerintah Kabupaten Sigi saat ini tengah menggodok penetapan status tanggap darurat selama 14 hari ke depan untuk mempercepat proses pemulihan. Posko lapangan pun telah didirikan di Kantor Camat Nokilalaki sebagai pusat koordinasi bantuan.
Di Kabupaten Poso, langkah antisipatif diambil dengan mendirikan tenda darurat di area RSUD Poso guna memastikan pelayanan medis tetap berjalan aman bagi pasien, mengingat kekhawatiran akan gempa susulan. Di sisi lain, warga bersama aparat kepolisian bahu-membahu membersihkan puing-puing bangunan yang berserakan di jalanan dan pemukiman.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada namun tidak panik. Mengingat aktivitas gempa susulan yang masih mungkin terjadi, warga diminta untuk hanya memercayai informasi resmi dari BMKG dan pemerintah setempat guna menghindari hoaks yang dapat memicu ketakutan berlebih di tengah situasi bencana alam ini.