Ikuti Kami
kabarmalam.com

Ketulusan di Balik Nisan: Kisah Mak Painah Besarkan Anak Asuh dari Puing-Puing Kamboja

Husnul | kabarmalam.com
Kamis, 28 Mei 2026 19:04 WIB
Ketulusan di Balik Nisan: Kisah Mak Painah Besarkan Anak Asuh dari Puing-Puing Kamboja

Kabarmalam.com — Di balik rimbunnya pohon kamboja dan deretan nisan yang membisu di Kelurahan Pucangsawit, Surakarta, Jawa Tengah, terselip sebuah kisah tentang ketulusan yang melampaui ikatan darah. Mak Painah, seorang lansia berusia 73 tahun, membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk memupuk kasih sayang yang luar biasa.

Setiap pagi, saat embun masih membasahi bumi, langkah renta Mak Painah sudah tertuju pada area pemakaman setempat. Pekerjaannya mungkin dipandang sebelah mata oleh sebagian orang: memunguti bunga kamboja yang gugur dan membersihkan makam-makam yang mulai ditumbuhi rumput liar. Dari tangan tuanya yang gemetar, ia mengumpulkan pundi-pundi rupiah yang tak menentu, terkadang tak sampai Rp 10 ribu sehari, demi menyambung hidup bersama sang putra asuh, Aditya Herlambang.

Baca Juga  Aksi Cepat CT Arsa dan Koarmada RI Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Kemayoran

Kasih Sayang yang Melampaui Takdir

Aditya bukanlah anak kandung Mak Painah. Belasan tahun silam, bayi mungil itu dititipkan kepadanya. Namun, orang tua kandung Aditya tak kunjung kembali, meninggalkan bayi tersebut dalam dekapan Mak Painah yang saat itu sudah mulai menua. Alih-alih menyerah pada keadaan, Mak Painah memilih untuk membesarkannya dengan sepenuh hati setelah suaminya berpulang.

“Sudah saya anggap anak sendiri,” ungkap Mak Painah dengan nada getir namun penuh kebanggaan. Baginya, kehadiran Aditya adalah napas baru di tengah kesunyian masa senjanya. Di rumah yang jauh dari kemewahan, ia merawat Aditya dengan hasil jualan bunga dan jasa bersih makam, memastikan anak asuhnya tersebut tidak kehilangan masa depan.

Baca Juga  Duka Mendalam di Pandeglang, Korban Tewas Insiden Mobil Kepala Dinas Kini Menjadi Dua Orang

Menembus Batas Kekhawatiran Pendidikan

Badai kekhawatiran sempat melanda batin Mak Painah ketika Aditya lulus dari bangku SMP. Bayang-bayang biaya pendidikan yang melambung tinggi membuatnya terjaga di malam hari. Ia takut, kemiskinan yang ia dekap erat akan memutus rantai cita-cita Aditya.

Namun, secercah harapan muncul saat Aditya dinyatakan diterima di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 17 Surakarta. Kabar bahwa sekolah tersebut membebaskan seluruh biaya pendidikan membuat air mata Mak Painah tumpah seketika. “Alhamdulillah, saya senang sekali sampai menangis karena dia bisa sekolah gratis,” tuturnya haru. Bagi seorang lansia pembersih makam, berita itu bagaikan mukjizat yang turun dari langit.

Dukungan Pemerintah sebagai Penopang Hidup

Perjuangan Mak Painah tidaklah sendirian. Kementerian Sosial hadir memberikan napas tambahan melalui Program Keluarga Harapan (PKH). Memasuki tahun 2025, perhatian pemerintah semakin nyata dengan bantuan sembako serta bantuan khusus Yatim Piatu (YAPI) yang menyokong kebutuhan harian mereka.

Baca Juga  Aksi Nyata Bebizie Sri Mulyati: Wujudkan Harapan Baru bagi Korban Kebakaran di Jakarta Utara

Meski raga kian renta dimakan usia, semangat Mak Painah tidak pernah padam. Ia hanya memiliki satu keinginan sederhana yang terus ia langitkan dalam doa-doanya di sela-sela waktu membersihkan nisan. “Saya ingin melihat Aditya tumbuh besar, sekolahnya selesai, dan hidupnya lebih baik dari saya,” pungkasnya menutup percakapan.

Kisah Mak Painah menjadi pengingat bagi kita semua bahwa di sudut-sudut kota yang tersembunyi, masih ada inspirasi tentang kemanusiaan yang tegak berdiri meski diterjang badai ekonomi.

Tentang Penulis
Husnul
Husnul