Ikuti Kami
kabarmalam.com

Sentilan Tajam Hasto Kristiyanto Soal Tokoh ‘Kitabuming’ Asal Solo di Film Ghost in the Cell

Husnul | kabarmalam.com
Minggu, 07 Jun 2026 22:04 WIB
Sentilan Tajam Hasto Kristiyanto Soal Tokoh 'Kitabuming' Asal Solo di Film Ghost in the Cell

Kabarmalam.com — Momentum peringatan Bulan Bung Karno kali ini diwarnai dengan sebuah refleksi kritis melalui karya sinematik yang menggugah nalar. Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, memberikan perhatian mendalam saat menghadiri agenda nonton bareng film terbaru besutan sutradara kenamaan Joko Anwar yang berjudul Ghost in the Cell.

Bertempat di Bioskop Megaria, Jakarta, Hasto secara spesifik menyoroti kehadiran sosok antagonis bernama Prakasa Kitabuming dalam alur cerita tersebut. Karakter ini digambarkan sebagai seorang pengusaha yang diselimuti ketamakan luar biasa. Meski telah dijebloskan ke penjara akibat kasus korupsi, sosok Prakasa Kitabuming diceritakan masih mampu mengecap kemewahan fasilitas yang fantastis di balik jeruji besi.

Simbolisme Tajam di Balik Identitas Tokoh

Hasto memuji kecerdasan Joko Anwar dalam meramu kritik sosial yang sangat kontekstual. Ia menyoroti bagaimana detail-detail kecil dalam film tersebut membawa pesan yang sangat kuat bagi penonton, mulai dari asal daerah tokoh tersebut hingga identitas numeriknya.

Baca Juga  PDIP Tegas Tolak RUU Pemilu Jadi Inisiatif Pemerintah: Menyerahkan Nyawa Partai ke Penguasa?

“Joko Anwar dengan sangat cerdas menyampaikan bagaimana ada pengusaha yang sangat tamak. Bahkan saat dipenjara karena korupsi, tokoh bernama Prakarsa Kitabuming ini masih menikmati kemewahan luar biasa. Menariknya, dalam kritik sosial tersebut, dia disebut berasal dari Solo dengan nomor registrasi 21061961. Ini sangat simbolik dan mencerdaskan,” ujar Hasto Kristiyanto kepada awak media.

Dalam narasi film Ghost in the Cell, tokoh tersebut juga dikaitkan dengan isu lingkungan, di mana ia digambarkan sebagai pengusaha yang bertanggung jawab atas praktik penggundulan hutan demi ambisi pribadinya. Hasto menilai hal ini sebagai potret gelap yang harus diwaspadai dalam kehidupan nyata.

Refleksi Nilai Bung Karno dan Perlawanan Modern

Lebih jauh, pria asal Yogyakarta ini melihat bahwa film tersebut merefleksikan semangat perlawanan yang konsisten diperjuangkan oleh Presiden pertama RI, Soekarno. Bagi Hasto, apa yang ditampilkan di layar lebar adalah manifestasi dari wajah baru kapitalisme dan imperialisme yang terus berevolusi di era modern.

Baca Juga  Skandal Pemalsuan Tanda Tangan Guncang Kementerian PU, Dody Hanggodo: Saya Merasa Terpukul dan Ternodai

Hasto bahkan melontarkan ajakan bagi para kader partai dan masyarakat luas untuk memetik pelajaran dari karya ini. Menurutnya, pesan-pesan yang tersirat melalui nama, asal-usul, hingga detail teknis dalam film tersebut harus menjadi alarm bagi bangsa Indonesia agar tidak membiarkan realitas serupa terjadi di tanah air.

Beberapa poin refleksi yang ditekankan Hasto antara lain:

  • Pentingnya kesetiaan pada nilai-nilai moral dan etika dalam kehidupan bernegara.
  • Keteguhan memegang idealisme di tengah gempuran kepentingan kapital yang rakus.
  • Kewaspadaan terhadap praktik korupsi yang merusak tatanan sosial dan lingkungan.

“Momen Bulan Bung Karno ini seharusnya menyadarkan kita semua untuk kembali setia pada etika dalam kehidupan bersama. Kita mencita-citakan sesuatu yang besar untuk bangsa ini, bukan sekadar memuaskan ketamakan segelintir pihak,” pungkasnya menutup diskusi usai pemutaran film tersebut.

Baca Juga  Vonis 4 Tahun Kasus Korupsi Chromebook: Ibam Tempuh Jalur Banding, Kejagung Beri Respons Hijau
Tentang Penulis
Husnul
Husnul