Ikuti Kami
kabarmalam.com

Membongkar Stigma Ultra Processed Food: Benarkah Sarden Kalengan Lebih Sehat dari Dugaan?

Wahid | kabarmalam.com
Minggu, 24 Mei 2026 08:37 WIB
Membongkar Stigma Ultra Processed Food: Benarkah Sarden Kalengan Lebih Sehat dari Dugaan?

Kabarmalam.com — Jagat media sosial belakangan ini diramaikan oleh perdebatan hangat mengenai label Ultra-Processed Food (UPF). Menariknya, sarden kalengan mendadak menjadi perbincangan setelah muncul klaim bahwa produk ini sebenarnya tidak masuk dalam kategori UPF yang selama ini dianggap “musuh” bagi nutrisi sehat. Namun, apakah benar status kategori pengolahan menjadi satu-satunya indikator kesehatan sebuah makanan?

Mengenal Lebih Dekat Klasifikasi NOVA

Untuk memahami hiruk-pikuk ini, kita perlu menengok sistem klasifikasi NOVA yang membagi pangan ke dalam empat tingkatan pengolahan. Pertama, ada unprocessed or minimally processed foods (NOVA 1). Kedua, processed culinary ingredients (NOVA 2). Ketiga, processed foods (NOVA 3), dan puncaknya adalah ultra-processed foods atau UPF (NOVA 4).

Selama ini, produk seperti mi instan, nugget, hingga minuman manis dalam kemasan seringkali langsung mendapat cap buruk karena berada di level NOVA 4. Padahal, jika kita menelaah lebih dalam, tidak semua produk dalam kategori makanan olahan memiliki dampak yang identik terhadap tubuh manusia.

Baca Juga  Tips Sehat Menikmati Hidangan Kurban: Strategi Ampuh Hindari Kolesterol dan Asam Urat

Stigma UPF yang Belum Tentu Sama Rata

Realita di lapangan menunjukkan adanya generalisasi berlebih. Studi yang dirilis dalam jurnal Diabetes Care tahun 2023, yang melibatkan hampir 200 ribu partisipan di Amerika Serikat, mengungkap fakta menarik. Memang benar bahwa konsumsi UPF yang tinggi secara kolektif berhubungan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2. Namun, riset tersebut menggarisbawahi bahwa dampaknya berbeda-beda antar produk.

Misalnya, minuman berpemanis dan daging olahan memang menunjukkan korelasi kuat terhadap risiko penyakit. Sebaliknya, produk yang juga masuk kategori olahan seperti yogurt, sereal tertentu, hingga roti gandum utuh justru memberikan hasil yang berbeda secara klinis. Hal ini menunjukkan bahwa struktur gaya hidup sehat tidak bisa hanya ditentukan oleh satu label kategori saja.

Baca Juga  Mengenal Runner's Trot: Alasan Medis di Balik Fenomena 'Kebelet' BAB Saat Lomba Lari

Kritik Pakar: Jangan Hanya Melihat Cara Mengolahnya

Fenomena ini turut mendapat perhatian dari Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, pakar teknologi pangan dari IPB University. Menurutnya, salah satu kekeliruan fatal dalam diskusi publik saat ini adalah menyamaratakan semua pangan olahan sebagai sesuatu yang tidak menyehatkan tanpa melihat kandungan gizinya secara objektif.

“Dampaknya, pangan olahan yang sebenarnya aman, bergizi, dan sudah memenuhi standar—seperti susu UHT atau produk pangan fortifikasi—akhirnya ikut terseret stigma negatif,” jelas Prof. Purwiyatno. Ia menekankan bahwa penilaian terhadap makanan seharusnya bersifat holistik, mencakup komposisi bahan, kandungan nutrisi, hingga bagaimana pola konsumsi secara keseluruhan dalam keseharian.

Bijak Memilih di Tengah Gempuran Tren

Munculnya diskusi mengenai sarden kalengan ini menjadi momentum bagi konsumen untuk lebih kritis. Alih-alih hanya takut pada istilah UPF, kita diajak untuk lebih rajin membaca label informasi nilai gizi. Sarden kalengan, terlepas dari perdebatan kategorinya, tetap mengandung protein dan omega-3 yang tinggi, meski tetap perlu diperhatikan kandungan garam atau pengawet yang menyertainya.

Baca Juga  Dilema Hidrasi Usai Berlari: Lebih Baik Air Dingin atau Air Hangat? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Pada akhirnya, kesehatan tidak ditentukan oleh satu jenis makanan saja, melainkan oleh keseimbangan asupan nutrisi yang masuk ke tubuh setiap hari. Tetap terinformasi dengan tips kesehatan yang akurat adalah kunci agar kita tidak terjebak dalam rasa takut yang tidak berdasar terhadap teknologi pangan.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid