Mengenal Runner’s Trot: Alasan Medis di Balik Fenomena ‘Kebelet’ BAB Saat Lomba Lari
Selasa, 26 Mei 2026 06:34 WIB
Kabarmalam.com — Pemandangan pelari yang mendadak menepi ke toilet portabel atau bahkan mengalami insiden memalukan seperti buang air besar (BAB) di tengah lintasan balap belakangan ini menjadi sorotan hangat di media sosial. Fenomena ini bukan sekadar rumor atau kejadian langka, melainkan sebuah realitas medis yang dikenal di dunia atletik dengan istilah Runner’s Trot. Bagi para penggiat olahraga lari, rasa mulas yang muncul tiba-tiba saat memacu kecepatan adalah tantangan fisik yang nyata.
Apa Itu Runner’s Trot?
Berdasarkan tinjauan medis, runner’s trot merupakan kondisi di mana seseorang merasakan dorongan yang sangat kuat dan mendesak untuk buang air besar selama atau sesaat setelah melakukan aktivitas lari. Rasa mulas ini seringkali tidak tertahankan hingga berujung pada diare akut. Menariknya, karena mayoritas ajang balap lari dimulai pada pagi hari, risiko ini meningkat drastis mengingat pagi hari adalah waktu biologis rutin bagi kebanyakan orang untuk melakukan defekasi.
Kondisi ini tidak memandang bulu, namun data menunjukkan bahwa pelari jarak jauh atau peserta marathon memiliki risiko lebih besar. Secara demografis, fenomena ini lebih sering dilaporkan oleh pelari wanita serta kelompok pelari usia muda dibandingkan dengan pelari senior yang lebih berpengalaman.
Gejala dan Tanda yang Perlu Diwaspadai
Seorang pelari tidak hanya merasakan mulas biasa. Semakin jauh jarak yang ditempuh dan semakin tinggi intensitas latihan, gejala yang muncul bisa semakin kompleks. Beberapa tanda dari gangguan kesehatan pencernaan ini meliputi:
- Perut terasa kembung dan kram yang melilit.
- Diare mendadak di tengah lintasan.
- Inkontinensia feses atau hilangnya kendali atas otot dubur.
- Rasa mual yang terkadang disertai muntah.
- Nyeri di area dada akibat tekanan gas.
- Dalam kasus yang cukup berat, dapat ditemukan feses yang bercampur darah.
Mengapa Perut Menjadi Sensitif Saat Berlari?
Penyebab utama dari runner’s trot berkaitan erat dengan distribusi aliran darah dalam tubuh. Saat kita berlari kencang, tubuh secara otomatis mengalihkan aliran darah dari organ dalam, termasuk usus besar, menuju otot-otot kaki yang sedang bekerja keras. Akibatnya, saluran pencernaan mengalami kekurangan oksigen dan nutrisi untuk sementara waktu.
Kondisi kekurangan aliran darah ini, ditambah dengan guncangan fisik saat berlari dan efek dehidrasi, memicu usus untuk bergerak lebih aktif secara tidak beraturan. Inilah yang menyebabkan munculnya rasa mulas yang mendesak atau yang secara klinis berhubungan dengan kolitis iskemik ringan akibat olahraga.
Tips Ampuh Mencegah Runner’s Trot
Agar performa Anda di lintasan tidak terganggu oleh urusan perut, ada beberapa langkah strategis yang bisa dilakukan. Kabarmalam.com merangkum panduan praktis berikut ini:
- Seleksi Makanan Sebelum Race: Hindari mengonsumsi makanan tinggi serat, produk olahan susu, daging merah, dan seafood setidaknya satu hari sebelum lomba. Pilihlah karbohidrat yang mudah dicerna untuk menjaga energi tanpa membebani usus.
- Hindari Pakaian Terlalu Ketat: Pakaian lari yang menekan bagian perut secara berlebihan dapat menghambat sirkulasi darah ke sistem pencernaan dan memperparah rasa tidak nyaman pada perut.
- Manajemen Hidrasi: Pastikan Anda terhidrasi dengan baik, namun hindari minum air dalam jumlah terlalu banyak sekaligus sesaat sebelum flag-off. Pelajari tips hidrasi yang tepat agar keseimbangan elektrolit tetap terjaga.
- Opsi Medis: Dalam beberapa kondisi, penggunaan obat anti-diare seperti loperamide bisa dipertimbangkan. Namun, sangat disarankan untuk melakukan konsultasi dokter terlebih dahulu guna memastikan keamanan bagi kondisi tubuh Anda.
Memahami batasan dan respon tubuh terhadap latihan fisik adalah kunci utama bagi setiap pelari. Dengan persiapan nutrisi yang matang dan pola latihan yang terukur, risiko runner’s trot dapat diminimalisir sehingga Anda bisa fokus mencapai garis finis dengan maksimal.