Mengapa Perut Tiba-tiba Mules Jelang Start Lari? Mengenal Pre-Race Anxiety dan Dampaknya pada Pencernaan
Sabtu, 30 Mei 2026 20:34 WIB
Kabarmalam.com — Bagi para pecinta lari marathon, momen race day adalah puncak dari segala latihan keras berbulan-bulan. Sepatu karbon tercanggih sudah siap di kaki, jersey kebanggaan telah melekat, dan nomor bib sudah tersemat rapi. Di dalam benak, hanya ada satu misi: menembus batas diri dan mencetak Personal Best (PB) yang baru.
Namun, suasana heroik tersebut tak jarang berubah drastis menjadi drama yang menegangkan. Alih-alih melesat di lintasan, banyak pelari justru harus beradu cepat menuju toilet. Rasa mulas yang muncul tiba-tiba ini bukan sekadar urusan perut, melainkan sebuah respons biologis yang dikenal dengan istilah pre-race anxiety.
Sinyal Otak yang Menggerakkan Perut
Spesialis kedokteran olahraga, dr. Antonius Andi Kurniawan, SpKO, menjelaskan bahwa fenomena mulas menjelang flag off sangat berkaitan erat dengan kondisi psikologis atlet. Kecemasan sebelum lomba memicu aktifnya sistem saraf simpatis bahkan sebelum tembakan start berbunyi.
“Ada konsep yang sudah sangat dikenal secara medis, yaitu gut-brain axis. Ini adalah hubungan timbal balik antara otak dan saluran pencernaan kita,” tutur dr. Andi saat memberikan penjelasan mendalam terkait fenomena ini.
Menurutnya, saluran cerna manusia memiliki sistem saraf tersendiri yang disebut enteric nervous system. Sistem ini sangat sensitif terhadap status emosional seseorang. Tak heran jika seorang pelari bisa bolak-balik ke toilet hingga dua atau tiga kali sebelum lomba dimulai, meskipun mereka sudah merasa ‘tuntas’ saat berada di hotel.
Kurang Tidur Memperburuk Keadaan
Selain faktor stres dan gugup, dr. Andi juga menyoroti pentingnya istirahat yang cukup. Kurang tidur di malam sebelum hari perlombaan ternyata menjadi katalisator yang memperburuk kondisi pencernaan. Tidur yang tidak berkualitas akan mengganggu regulasi otonom dalam tubuh dan meningkatkan kadar hormon kortisol (hormon stres).
“Kurangnya waktu tidur menurunkan toleransi sistem pencernaan terhadap tekanan fisik yang berat. Meskipun seorang pelari telah melakukan proses tapering (pengurangan beban latihan) dengan baik, jika malamnya kurang tidur, risiko gangguan perut tetap tinggi,” tambahnya.
Pentingnya Kesiapan Mental
Fenomena yang sering disebut sebagai runner’s trot ini menjadi pengingat bahwa kesiapan fisik saja tidaklah cukup. Kesiapan mental dan manajemen emosi memegang peranan vital dalam menjaga kestabilan tubuh saat berlaga. Mengatur pola pikir agar tetap tenang dan memastikan asupan istirahat yang maksimal adalah kunci agar performa di lintasan tidak terganggu oleh ‘panggilan alam’ yang tak terduga.
Dengan memahami kaitan antara emosi dan fisik, diharapkan para penggiat kesehatan pelari dapat lebih bijak dalam mempersiapkan diri, sehingga momen race day tetap menjadi pengalaman yang menyenangkan dan berprestasi.