Ikuti Kami
kabarmalam.com

Mengupas Fenomena Gaslighting yang Viral di Lomba Cerdas Cermat MPR: Dampak Serius di Balik Kata ‘Hanya Perasaan’

Wahid | kabarmalam.com
Kamis, 14 Mei 2026 05:34 WIB
Mengupas Fenomena Gaslighting yang Viral di Lomba Cerdas Cermat MPR: Dampak Serius di Balik Kata 'Hanya Perasaan'

Kabarmalam.com — Jagat maya baru-baru ini dihebohkan oleh cuplikan video dari ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar yang diselenggarakan oleh MPR RI. Namun, perhatian publik bukan tertuju pada prestasi para peserta, melainkan pada sebuah interaksi yang dianggap sebagai bentuk nyata dari perilaku gaslighting di ruang publik.

Kejadian bermula saat seorang peserta melayangkan protes karena merasa jawabannya benar namun dianulir oleh dewan juri. Bukannya memberikan klarifikasi yang objektif, pihak penyelenggara justru menunjukkan sikap defensif. Salah satu momen yang paling memicu amarah netizen adalah ketika pembawa acara (MC) menanggapi keberatan peserta dengan kalimat, “Itu hanya perasaan adik-adik saja.” Kalimat tersebut, ditambah dengan sikap juri yang menyalahkan artikulasi peserta, memicu diskusi luas mengenai kesehatan mental dan etika komunikasi.

Baca Juga  Jeritan Hati Ammar Zoni dari Balik Sel Nusakambangan: "Gue Enggak Sanggup"

Apa Itu Gaslighting yang Sebenarnya?

Istilah gaslighting kini memang sering terdengar, namun maknanya jauh lebih dalam dari sekadar berbohong atau bersikap tidak menyenangkan. Mengutip data dari Cleveland Clinic, gaslighting merupakan bentuk spesifik dari pelecehan emosional dan manipulasi psikologis yang bertujuan untuk membuat seseorang meragukan persepsi, ingatan, atau kewarasan mereka sendiri.

Psikolog Chivonna Childs menjelaskan bahwa inti dari manipulasi ini adalah untuk mendelegitimasi perasaan seseorang. “Gaslighting adalah upaya untuk membuat seseorang merasa seolah-olah apa yang mereka pikirkan atau alami sebenarnya tidak terjadi. Secara perlahan, ini akan menghancurkan harga diri dan kepercayaan diri korban,” ungkapnya.

Dampak Psikologis: Luka yang Tak Terlihat

Dampak dari perlakuan ini tidak bisa dianggap remeh. Menurut psikolog klinis Anastasia Sari Dewi, korban yang terus-menerus terpapar manipulasi ini akan mengalami penurunan kualitas hidup secara mental. Ada tiga tahapan dampak utama yang sering terjadi:

  • Krisis Kepercayaan Diri: Korban mulai meragukan nilai (value) yang mereka miliki. Mereka menjadi tidak yakin dengan pemikiran dan perasaan mereka sendiri karena terus-menerus diputarbalikkan oleh lawan bicara.
  • Kecemasan yang Meningkat: Muncul rasa khawatir berlebih atau overthinking mengenai bagaimana orang lain menilai dirinya. Korban sering merasa takut dianggap berlebihan atau salah, bahkan saat mereka berada di posisi yang benar.
  • Depresi dan Keputusasaan: Pada tahap yang lebih berat, ketidakmampuan untuk memproses manipulasi ini bisa berujung pada depresi. Korban merasa tidak dipahami, tidak kompeten, dan kehilangan harapan akan masa depan yang baik.
Baca Juga  Mengenal Penyakit Jantung Bawaan pada Anak: Gejala, Risiko, dan Pentingnya Deteksi Dini

Mengenali Pola Perilaku Gaslighting

Meskipun seringkali sulit dideteksi pada awalnya, ada beberapa pola perilaku umum yang menjadi ciri khas pelaku gaslighting. Penting bagi kita untuk mengenali tanda-tanda ini demi menjaga kesejahteraan psikologis diri sendiri:

  1. Menuduh balik saat dikonfrontasi mengenai fakta.
  2. Mengalihkan pembicaraan untuk menghindari substansi argumen.
  3. Menyangkal kesalahan meskipun bukti sudah jelas (penyangkalan realitas).
  4. Menganggap remeh perasaan orang lain dengan label “terlalu sensitif” atau “hanya perasaan”.
  5. Menciptakan narasi palsu untuk membuat korban merasa bersalah.

Kasus di LCC MPR RI ini menjadi pengingat bagi publik bahwa cara kita berkomunikasi, terutama di posisi otoritas, memiliki dampak besar bagi mental orang lain. Menghargai validitas perasaan dan fakta adalah kunci utama dalam membangun interaksi yang sehat dan bermartabat.

Baca Juga  Viral Gaslighting di LCC MPR: Psikolog Ungkap Dampak Fatal Manipulasi Emosional bagi Korban
Tentang Penulis
Wahid
Wahid