Viral Gaslighting di LCC MPR: Psikolog Ungkap Dampak Fatal Manipulasi Emosional bagi Korban
Rabu, 13 Mei 2026 14:34 WIB
Kabarmalam.com — Riuh rendah panggung Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat mendadak berubah menjadi sorotan tajam netizen. Hal ini bermula dari sikap sang pembawa acara, Shindy Lutfiana, yang pernyataannya dinilai mengandung unsur gaslighting terhadap siswa SMAN 1 Pontianak. Alih-alih menjadi ajang adu kecerdasan yang suportif, momen tersebut justru memperlihatkan bagaimana kekuatan kata-kata mampu membuat seseorang merasa ‘kecil’ dan tidak berdaya di hadapan publik.
Fenomena ini memicu diskusi luas mengenai gaslighting, sebuah bentuk manipulasi psikologis yang sering kali tidak disadari namun memiliki dampak yang sangat merusak. Menanggapi situasi tersebut, psikolog klinis Anastasia Sari Dewi membeberkan gambaran kelam mengenai apa yang sebenarnya dirasakan oleh korban yang terpapar tindakan manipulatif semacam ini.
1. Terkikisnya Kepercayaan Diri secara Drastis
Dampak paling nyata dan instan dari tindakan gaslighting adalah hancurnya fondasi kepercayaan diri korban. Anastasia menjelaskan bahwa korban cenderung mulai meragukan kebenaran dari pemikiran serta perasaan mereka sendiri. Hal ini terjadi karena lawan bicara secara konsisten memutarbalikkan fakta atau logika korban.
“Korban akan merasa tidak yakin dengan nilai atau value yang ia miliki. Dalam kondisi normal, seseorang belajar bahwa hal baik akan berbuah baik. Namun, dalam jerat manipulasi psikologis, respons yang diterima justru sebaliknya, sehingga korban merasa apa yang dilakukannya selalu salah meskipun secara objektif sudah benar,” ungkap Anastasia.
2. Lonjakan Kecemasan dan Ketakutan Sosial
Tidak berhenti pada krisis identitas, gaslighting juga memicu kecemasan yang berlebihan. Korban mulai terobsesi dengan persepsi orang lain terhadap dirinya. Muncul pertanyaan-pertanyaan destruktif di dalam kepala seperti, ‘Apakah orang lain mengerti maksudku?’, ‘Jangan-jangan aku dianggap aneh?’, atau ‘Apakah aku sudah cukup baik?’.
Rasa khawatir akan penilaian negatif dari lingkungan ini membuat korban merasa selalu berada di bawah pengawasan yang menghakimi. Kondisi ini, menurut Anastasia, menciptakan rasa tidak aman yang konstan karena korban takut setiap langkah atau perkataannya akan diputarbalikkan kembali untuk menyudutkan mereka.
3. Penurunan Mood hingga Risiko Depresi
Konsekuensi jangka panjang yang paling mengkhawatirkan adalah memburuknya kesehatan mental secara keseluruhan. Ketika seseorang terus-menerus dipaksa berperang dengan pikiran overthinking dan kecemasan, energi mental mereka akan terkuras habis. Inilah pintu masuk menuju depresi.
“Muncul sensasi sedih yang mendalam karena merasa tidak dipahami dan selalu diposisikan sebagai pihak yang salah. Korban mulai merasa tidak kompeten (incapable) dan kehilangan harapan akan masa depan yang baik,” tambah Anastasia. Rasa rendah diri yang akut ini jika dibiarkan dapat membuat seseorang ragu untuk melangkah maju, meskipun mereka memiliki potensi yang luar biasa.
Kasus di LCC MPR ini menjadi pengingat bagi publik bahwa etika berkomunikasi, terutama di ruang publik dan terhadap institusi pendidikan, memegang peranan krusial. Seorang psikolog menekankan pentingnya empati agar ajang kompetisi tetap menjadi ruang pertumbuhan, bukan tempat yang meninggalkan trauma mendalam bagi generasi muda.