Krengsengan Berujung Petaka: Kronologi 200 Siswa di Surabaya Keracunan Menu Makanan Bergizi Gratis
Rabu, 13 Mei 2026 15:04 WIB
Kabarmalam.com — Sebuah insiden memilukan mengguncang dunia pendidikan di Kota Pahlawan setelah ratusan pelajar dari berbagai jenjang dilaporkan mengalami gejala keracunan makanan massal. Sebanyak 200-an siswa di Surabaya terpaksa dilarikan ke fasilitas kesehatan usai menyantap menu dalam program makanan bergizi gratis (MBG) yang sedianya bertujuan untuk meningkatkan kesehatan mereka.
Gejala mual, pusing, hingga muntah-muntah mulai dirasakan para siswa tak lama setelah jam makan siang berakhir. Sebagian besar korban dievakuasi secara darurat ke Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) IBI di Jalan Dupak untuk mendapatkan penanganan medis intensif. Kejadian ini menjadi sorotan tajam publik karena melibatkan siswa dari 12 sekolah berbeda yang mendapatkan pasokan dari satu dapur umum yang sama.
Inovasi Menu Daging Slice yang Berakhir Tragis
Pemicu utama dari kasus ini diduga kuat berasal dari menu baru yang diperkenalkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yakni krengsengan daging slice. Kepala Puskesmas Tembok Dukuh, drg. Tyas Pranadani, mengonfirmasi bahwa para korban berasal dari jenjang pendidikan yang beragam, mulai dari TK, SD, hingga SMP.
“Hampir semua mengeluh dengan gejala serupa: pusing, mual, dan muntah. Data sementara menunjukkan ada sekitar 200 siswa yang terdampak dari sekitar 12 sekolah yang mendapatkan suplai makanan dari dapur yang sama,” ungkap drg. Tyas saat memberikan keterangan di RSIA IBI Surabaya.
Warganet pun ramai berspekulasi di media sosial mengenai penyebab pasti insiden ini. Beberapa pihak mengkritisi pemilihan bahan baku daging slice yang mungkin memiliki kadar lemak terlalu tinggi, sementara yang lain menduga adanya kendala pada jalur distribusi makanan yang membuat hidangan tersebut rentan basi atau terkontaminasi bakteri sebelum sampai ke tangan siswa.
Tanggung Jawab Penuh dan Evaluasi Menyeluruh
Menanggapi tragedi ini, Kepala SPPG Bubutan Tembok Dukuh, Chafi Alida Najla, secara terbuka menyampaikan permohonan maaf yang mendalam kepada para siswa, guru, dan orang tua wali murid yang terdampak. Ia menegaskan bahwa pihaknya akan memikul tanggung jawab penuh, termasuk menanggung seluruh biaya perawatan medis para korban.
“Kami memohon maaf sebesar-besarnya atas musibah ini. Menu daging slice ini merupakan inovasi pertama kami yang didasarkan pada permintaan para siswa, namun berakhir di luar dugaan,” ujar Chafi. Ia juga menambahkan bahwa sampel makanan saat ini telah dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) untuk mengidentifikasi penyebab pasti kontaminasi tersebut.
Sebagai langkah antisipasi lebih lanjut, operasional dapur SPPG Surabaya di wilayah tersebut telah dihentikan sementara waktu. Langkah tegas ini diambil guna mempermudah proses penyelidikan oleh pihak berwenang serta memastikan standar keamanan pangan dapat ditingkatkan secara drastis agar kejadian serupa tidak kembali terulang di masa depan.