Belajar dari Kasus Viral MC Cerdas Cermat MPR, Apa Itu Gaslighting dan Bagaimana Mengenalinya?
Rabu, 13 Mei 2026 09:34 WIB
Kabarmalam.com — Jagat media sosial belakangan ini diramaikan oleh potongan video yang memicu perdebatan panas netizen. Sosok Shindy Lutfiana, yang bertugas sebagai pembawa acara atau Master of Ceremony (MC) dalam ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat, mendadak menjadi pusat perhatian publik akibat interaksinya dengan peserta dari SMAN 1 Pontianak.
Kejadian yang berlangsung di tengah kompetisi tersebut viral setelah Shindy dinilai memberikan respons yang kurang tepat terhadap keberatan siswa. Netizen ramai-ramai melabeli aksi sang MC sebagai tindakan gaslighting setelah ia menyalahkan artikulasi peserta yang dianggap tidak jelas, meskipun peserta tersebut tengah berjuang membela haknya di hadapan dewan juri.
“Duta Artikulasi dan Gaslighting,” sindir salah satu akun di platform X, mencerminkan kegeraman kolektif pengguna internet. Meski Shindy dikabarkan telah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka, istilah gaslighting kini kadung melekat pada diskursus kasus tersebut. Lantas, apa sebenarnya makna dari istilah yang sering kali disalahartikan ini?
Memahami Esensi Gaslighting
Istilah gaslighting memang kian populer dalam percakapan sehari-hari di dunia maya. Namun, sering kali kata ini digunakan secara sembarangan untuk sekadar melabeli perilaku berbohong atau membuat orang lain merasa bersalah. Padahal, makna psikologisnya jauh lebih dalam dan merusak.
Menyadur informasi dari Cleveland Clinic, gaslighting adalah bentuk spesifik dari pelecehan emosional dan manipulasi mental. Taktik ini dirancang untuk mengikis kepercayaan diri seseorang hingga mereka meragukan persepsi, ingatan, bahkan kewarasan mereka sendiri.
Psikolog Chivonna Childs, PhD, menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan taktik manipulatif agar korban merasa bahwa perasaan atau pikiran mereka tidak valid. “Gaslighting membuat Anda merasa seolah-olah apa yang Anda pikirkan sedang terjadi, sebenarnya tidak pernah terjadi,” tuturnya. Dalam jangka panjang, korban akan kehilangan harga diri dan terus-menerus mempertanyakan kemampuan mental mereka.
Pola Perilaku yang Perlu Diwaspadai
Mengenali kesehatan mental sangat penting agar kita tidak terjebak dalam lingkaran manipulasi. Tidak ada satu perilaku tunggal yang mendefinisikan gaslighting, melainkan serangkaian pola yang dilakukan secara konsisten, antara lain:
- Menyalahkan dan Menuduh: Memutarbalikkan fakta sehingga kesalahan justru ditimpakan kepada korban.
- Penyangkalan Fakta: Secara tegas membantah kejadian yang benar-benar terjadi, membuat korban ragu pada ingatannya sendiri.
- Meremehkan Perasaan: Menganggap reaksi korban berlebihan atau “terlalu sensitif” sehingga perasaan mereka dianggap tidak penting.
- Pengalihan Argumen: Alih-alih menjawab kritik, pelaku justru menyerang balik karakter atau kemampuan korban (seperti menyerang artikulasi bicara).
- Kebohongan Terang-terangan: Memberikan informasi palsu dengan penuh keyakinan untuk membingungkan lawan bicara.
Kasus yang menimpa MC LCC MPR RI ini menjadi pengingat penting bagi publik mengenai pentingnya etika berkomunikasi, terutama di ruang publik yang melibatkan tekanan mental tinggi bagi para pesertanya. Memahami apa itu gaslighting bukan sekadar mengikuti tren, melainkan langkah awal untuk melindungi diri dari bentuk manipulasi yang merusak harga diri.