Teka-Teki Keracunan Massal di Cianjur Terjawab: BGN Temukan Kadar Nitrit Melebihi Ambang Batas Aman
Selasa, 12 Mei 2026 11:04 WIB
Kabarmalam.com — Investigasi mendalam terkait insiden keracunan yang menimpa puluhan warga di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, akhirnya membuahkan hasil. Badan Gizi Nasional (BGN) secara resmi mengungkap temuan mengejutkan di balik musibah yang dialami oleh puluhan balita dan ibu menyusui tersebut.
Peristiwa yang sempat memicu kekhawatiran publik ini bermula ketika setidaknya 63 orang mengalami gejala keracunan usai mengonsumsi hidangan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kejadian yang berlangsung di Kecamatan Leles antara tanggal 15 hingga 17 April tersebut segera menjadi perhatian serius tim kesehatan dan otoritas terkait.
Bukan Bakteri, Melainkan Cemaran Kimia
Laporan akhir yang disusun oleh Tim Investigasi Independen BGN menunjukkan hasil yang cukup tak terduga. Berdasarkan uji sampel di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jawa Barat terhadap menu sajian di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Leles 2, Sukasirna, tim tidak menemukan adanya bakteri patogen seperti Salmonella sp, E.Coli, atau S. aureus.
Sebaliknya, sorotan tajam tertuju pada menu tumis pakcoy. Analisis laboratorium menemukan adanya kandungan zat kimia nitrit yang melonjak sangat drastis, melampaui batas aman yang ditetapkan oleh The Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA).
“Merujuk pada standar JECFA, ambang batas maksimum nitrit adalah 0,07 mg/kg berat badan per hari. Namun, tumis pakcoy yang disajikan mengandung hingga 11,85 mg/kg. Ini berarti temuan tersebut mencapai 169 kali lipat di atas batas aman,” ungkap Arie Karimah Muhammad, Ketua Tim Investigasi Independen BGN, dalam pernyataan resminya.
Akar Masalah di Lahan Pertanian
Munculnya kadar nitrit yang sangat tinggi ini diduga kuat berkaitan dengan faktor eksternal di lahan pertanian. Arie menjelaskan bahwa secara alami, sayuran dapat mengandung nitrit, namun kadarnya bisa meningkat pesat akibat aktivitas bakteri yang mengubah nitrat menjadi nitrit.
Penyebab lain yang patut diwaspadai dalam kasus di Cianjur ini adalah kemungkinan penggunaan pupuk nitrogen yang berlebihan, resapan air yang tercemar kotoran hewan atau manusia, hingga potensi limbah pabrik kimia di sekitar area tanam. Hal ini menjadi peringatan bagi pengawas ketahanan pangan untuk lebih ketat dalam melakukan kurasi bahan baku.
Dampak Bahaya bagi Tubuh
Tingginya asupan nitrit bukan perkara sepele. Dalam dunia medis, kondisi ini dapat memicu methaemoglobinemia, sebuah gangguan di mana kemampuan hemoglobin dalam darah untuk mengikat dan menyalurkan oksigen ke seluruh tubuh mengalami penurunan drastis.
“Efeknya sangat terasa bagi para korban, mulai dari tubuh yang mendadak lemas hingga sesak napas karena sel-sel tubuh mengalami kekurangan pasokan oksigen,” tambah Arie menjelaskan dampak kesehatan yang dialami para balita dan ibu menyusui di lokasi kejadian.
Kasus ini menjadi catatan penting bagi pemerintah dalam menjalankan program pemenuhan gizi nasional di masa mendatang, terutama dalam memastikan setiap mata rantai pasokan bahan makanan tetap steril dari kontaminasi kimia berbahaya.