Ikuti Kami
kabarmalam.com

Kisah Pilu di Balik Mesin Dialisis: Perjuangan Pasien Gagal Ginjal Malaysia Melawan Lelah dan Biaya

Wahid | kabarmalam.com
Rabu, 13 Mei 2026 11:34 WIB
Kisah Pilu di Balik Mesin Dialisis: Perjuangan Pasien Gagal Ginjal Malaysia Melawan Lelah dan Biaya

Kabarmalam.com — Di balik dinginnya ruang perawatan dan deru mesin yang konstan, tersimpan ribuan cerita perjuangan hidup yang menyesakkan dada. Di Malaysia, fenomena gagal ginjal bukan sekadar angka dalam statistik kesehatan, melainkan drama nyata tentang ketahanan fisik, keruntuhan ekonomi, hingga ancaman terhadap kelestarian lingkungan.

Langkah Berat di Antara Sesi Cuci Darah

Bagi Vijiya, seorang wanita berusia 62 tahun asal Petaling Jaya, setiap hari adalah pertempuran melawan rasa lelah yang ekstrem. Sejak didiagnosis mengidap penyakit ginjal di usia 55 tahun, hidupnya kini berpusat pada jadwal cuci darah yang menguras energi. Mantan petugas kebersihan ini bercerita betapa prosedur tersebut seringkali membuatnya hampir pingsan.

“Dialisis ini benar-benar menghisap energi saya. Bahkan hanya untuk turun dari flat di lantai 11, saya harus berkali-kali berhenti untuk duduk dan beristirahat sebelum akhirnya mampu masuk ke dalam taksi,” ungkap Vijiya dengan nada getir. Meski biaya medis utamanya ditanggung oleh PERKESO (Organisasi Jaminan Sosial Malaysia), biaya logistik dan kebutuhan sehari-hari tetap menjadi beban yang mencekik dompetnya.

Baca Juga  Perjuangan Edi Utomo: Menembus 700 Kali Cuci Darah di Usia 26 Tahun, Waspadai Gejala 'Silent Killer' Ini

Flu yang Mengubah Segalanya

Lain lagi cerita Jamilah, seorang pengusaha kuliner berusia 65 tahun. Hidupnya berubah drastis setelah ia terserang influenza pada Juli 2025. Siapa sangka, gejala flu yang tampak biasa itu justru menyingkap fakta pahit bahwa ginjalnya telah gagal berfungsi secara total. Kini, Jamilah harus berhadapan dengan tagihan perawatan yang mencapai RM3.000 hingga RM4.000 (setara Rp 13-17 juta) per bulan.

“Saya sudah sepuluh tahun membangun usaha makanan ini untuk mencicil rumah dan mobil. Namun sekarang, rasa lelah pasca-dialisis membuat saya nyaris tidak sanggup lagi berdiri di dapur,” keluh Jamilah. Beruntung baginya, asuransi sang putri masih mampu menutup biaya pengobatan yang selangit tersebut, namun beban mental kehilangan produktivitas tetap membayangi kesehariannya.

Baca Juga  Ancaman Serius Gagal Ginjal di Indonesia: Beban BPJS Kesehatan Melonjak Drastis Hingga 400 Persen

Dilema Ekologis di Balik Kesembuhan

Di luar perjuangan personal para pasien, terselip isu besar yang jarang disadari publik: dampak lingkungan dari prosedur hemodialisis. Assoc Prof Datuk Dr Lily Mushahar, pakar nefrologi dari Universitas IMU, mengungkapkan bahwa satu sesi cuci darah selama empat jam membutuhkan setidaknya 500 liter air. Dengan frekuensi 12 hingga 13 sesi per bulan per pasien, jejak karbon yang dihasilkan sangatlah masif.

“Hemodialisis memang sangat rakus utilitas, baik itu air, listrik, maupun limbah medis sekali pakai. Ini adalah tantangan besar dalam dunia medis modern,” jelas Dr. Lily. Beliau menambahkan bahwa proses penggunaan air ultra-murni dalam dialisis menyisakan banyak air yang terbuang sia-sia ke saluran pembuangan.

Baca Juga  Pelajaran Berharga dari Tuban: Kisah Pemuda 26 Tahun yang Terjebak Ritual Cuci Darah Akibat Mi Instan

Menuju Masa Depan ‘Dialisis Hijau’

Data dari Laporan Tahunan Terapi Penggantian Ginjal Global 2022 menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Jumlah pasien kesehatan ginjal stadium akhir terus meningkat sekitar 7 persen setiap tahunnya. Dengan sekitar 3,4 juta orang di seluruh dunia yang bergantung pada hemodialisis, kebutuhan akan inovasi “Dialisis Hijau” menjadi semakin mendesak.

Para ahli kini mulai menggaungkan konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) untuk pengelolaan air limbah dialisis. Harapannya, sisa air dari proses osmosis terbalik tidak lagi langsung dibuang, melainkan bisa didaur ulang untuk sektor lain seperti pertanian atau akuaponik. Langkah ini diharapkan mampu menyeimbangkan kebutuhan medis pasien tanpa harus mengorbankan keberlanjutan lingkungan di masa depan.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid