Ikuti Kami
kabarmalam.com

Mengenal Penyakit Jantung Bawaan pada Anak: Gejala, Risiko, dan Pentingnya Deteksi Dini

Wahid | kabarmalam.com
Senin, 25 Mei 2026 11:35 WIB
Mengenal Penyakit Jantung Bawaan pada Anak: Gejala, Risiko, dan Pentingnya Deteksi Dini

Kabarmalam.com — Kondisi kesehatan buah hati seringkali menjadi prioritas utama bagi setiap orang tua. Namun, di balik tawa dan keceriaan mereka, ada satu ancaman kesehatan serius yang kerap kali luput dari pengamatan medis sederhana: Penyakit Jantung Bawaan (PJB). Kelainan struktur jantung yang terjadi sejak dalam kandungan ini merupakan tantangan besar bagi dunia kesehatan di Indonesia.

Angka Kasus yang Mengkhawatirkan

Data menunjukkan fakta yang cukup mencengangkan. Di Indonesia, diperkirakan terdapat sekitar 40 ribu bayi yang lahir setiap tahunnya dengan kondisi penyakit jantung bawaan. Sayangnya, angka pertumbuhan kasus ini tidak berbanding lurus dengan tingkat kesadaran masyarakat serta ketersediaan fasilitas medis yang memadai. Ketimpangan jumlah pasien dengan ketersediaan sentra pengobatan serta dokter spesialis jantung anak menjadi hambatan utama dalam penanganan dini.

Memahami Jenis PJB: Biru vs Tidak Biru

Menurut Prof. dr. Ganesja Mulia Harimurti, SpJP(K), seorang pakar kardiologi pediatri dari Siloam Hospitals Kebon Jeruk, PJB secara garis besar diklasifikasikan menjadi dua jenis utama, yakni Sianotik (PJB Biru) dan Asianotik (PJB Tidak Biru).

Baca Juga  Kisah Inspiratif Charis Nicholas: Perjuangan Panjang Melawan Saraf Kejepit Akibat Cedera Basket yang Nyaris Melumpuhkan

Perbedaan mendasar keduanya terletak pada kadar oksigen dalam darah. Prof. Ganesja menjelaskan bahwa jantung manusia normalnya memisahkan aliran darah bersih (kaya oksigen) dan darah kotor (rendah oksigen). “Jika terjadi kelainan struktur yang menyebabkan darah rendah oksigen bercampur dengan darah kaya oksigen, maka manifestasi fisiknya akan terlihat dari perubahan warna kulit anak yang membiru,” ungkapnya dalam ajang Siloam Cardiac Summit 2025.

  • PJB Biru (Sianotik): Perubahan warna kebiruan biasanya terlihat jelas pada area bibir, serta kuku jari tangan dan kaki.
  • PJB Tidak Biru (Asianotik): Kondisi ini lebih sulit dideteksi secara visual karena kadar oksigen dalam tubuh tidak menurun secara drastis, sehingga kulit anak tetap terlihat normal.

Gejala yang Harus Diwaspadai Orang Tua

Bagi anak dengan PJB tidak biru, orang tua perlu lebih jeli dalam memantau tumbuh kembang anak. Beberapa tanda yang sering muncul antara lain:

  • Anak cepat merasa lelah saat beraktivitas.
  • Proses menyusu yang sering terhenti karena sesak atau kelelahan.
  • Berat badan yang sulit naik dan tidak sesuai dengan grafik pertumbuhan usianya.
  • Mengalami batuk yang berulang dan sulit sembuh.
Baca Juga  Bukan Sekadar Tanda Kantuk, Terungkap Rahasia Besar di Balik Aktivitas Menguap bagi Kesehatan Otak

Prof. Ganesja menekankan bahwa waktu penanganan sangat bergantung pada jenis kelainan yang ditemukan. Ada kasus yang menuntut koreksi bedah segera setelah lahir, namun ada pula yang bisa menunggu hingga usia beberapa bulan atau tahun.

Faktor Risiko dan Pencegahan Sejak Dini

Mencegah tentu lebih baik daripada mengobati. Para calon orang tua sangat disarankan untuk memahami faktor risiko yang dapat memicu terjadinya PJB pada janin. Beberapa poin krusial yang perlu diperhatikan meliputi:

  1. Usia Kehamilan: Disarankan bagi ibu untuk hamil di bawah usia 35 tahun untuk meminimalisir risiko kelainan genetik dan struktur.
  2. Kesehatan Ibu: Penyakit penyerta seperti diabetes (kencing manis) atau hipertensi harus terkontrol dengan baik sebelum dan selama masa kehamilan.
  3. Konsumsi Obat: Hindari mengonsumsi obat-obatan tanpa pengawasan dokter kandungan.
  4. Paparan Lingkungan: Hindari asap rokok dan paparan radiasi yang berbahaya bagi janin.
Baca Juga  Prabowo Subianto Tegaskan Program Makan Bergizi Gratis Tak Bersifat Paksaan Bagi Keluarga Mampu

Salah satu langkah deteksi dini yang paling efektif adalah melalui pemeriksaan janin menggunakan ekokardiografi janin saat usia kehamilan memasuki bulan kelima. Dengan metode ini, struktur jantung calon bayi sudah bisa dievaluasi dengan detail.

Kesiapan Penanganan Darurat

Sebagai bentuk komitmen dalam menangani masalah jantung, Siloam Hospitals Kebon Jeruk kini hadir sebagai Chest Pain Ready Hospital (CPRH). Fasilitas ini dirancang untuk menangani kegawatdaruratan jantung secara cepat dan terintegrasi. Dengan tim medis multidisiplin yang bersiaga 24/7 dan standar pemeriksaan EKG dalam waktu kurang dari 10 menit, diharapkan angka keselamatan pasien dapat terus ditingkatkan.

Kesadaran orang tua adalah kunci utama. Dengan mengenali gejala sejak awal dan melakukan konsultasi rutin ke rumah sakit, harapan hidup dan kualitas hidup anak dengan PJB dapat terjaga dengan lebih baik.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid