Ikuti Kami
kabarmalam.com

Membongkar Mitos Gula Aren: Benarkah Lebih Sehat dari Gula Pasir atau Sekadar Tren Gen-Z?

Wahid | kabarmalam.com
Minggu, 19 Apr 2026 05:03 WIB
Membongkar Mitos Gula Aren: Benarkah Lebih Sehat dari Gula Pasir atau Sekadar Tren Gen-Z?

Kabarmalam.com — Belakangan ini, memesan segelas kopi susu dengan pemanis gula aren seolah sudah menjadi gaya hidup wajib bagi kaum muda. Aroma karamelnya yang khas dan legit memberikan sensasi berbeda dibandingkan gula putih biasa. Namun, di balik popularitasnya, muncul sebuah narasi yang sangat kuat: gula aren dianggap sebagai pilihan yang jauh lebih sehat, lebih alami, dan aman bagi tubuh. Namun, benarkah klaim tersebut secara medis, ataukah kita hanya sedang terjebak dalam rasa aman yang semu?

Pesona Label ‘Alami’ di Balik Tren Kopi Susu

Popularitas gula aren tidak lepas dari pergeseran gaya hidup sehat yang sedang digandrungi generasi z. Berbeda dengan gula pasir yang melalui proses rafinasi panjang hingga berwarna putih bersih, gula aren berasal dari nira pohon palma yang diolah secara tradisional dan sederhana. Proses yang minim intervensi pabrik inilah yang memunculkan citra ‘alami’ di mata konsumen.

Banyak orang merasa tidak bersalah saat menambah takaran pemanis pada minuman kekinian mereka hanya karena labelnya adalah gula aren. Padahal, meski terlihat lebih tradisional, gula tetaplah gula. Dampaknya terhadap metabolisme tubuh, terutama pada lonjakan energi yang instan namun singkat, hampir serupa dengan pemanis lainnya jika dikonsumsi tanpa kendali.

Baca Juga  Benarkah Secangkir Kopi Memicu Hipertensi? Mengupas Fakta Medis di Balik Aroma Kafein

Adu Nutrisi: Gula Aren vs Gula Pasir

Jika kita membedah isi di dalamnya, apakah gula aren benar-benar membawa manfaat nutrisi yang signifikan? Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan RI melalui Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI), gula aren memang mengandung sekitar 368 kkal energi dan 91 gram karbohidrat per 100 gram. Angka ini tidak terpaut jauh dari gula pasir yang memiliki energi sekitar 364-387 kkal dengan kandungan karbohidrat hampir 100 persen.

Memang benar, gula aren memiliki keunggulan kecil pada kandungan mikronutrien. Di dalamnya terdapat sisa-sisa mineral seperti kalsium, fosfor, dan zat besi yang tidak ditemukan pada gula pasir. Namun, mari kita bersikap realistis. Dalam satu gelas kopi, biasanya hanya digunakan 1 hingga 2 sendok makan gula. Dengan jumlah sekecil itu, kontribusi mineral yang masuk ke tubuh sangatlah tidak signifikan untuk memberikan efek kesehatan yang nyata. Jadi, mengandalkan gula aren sebagai sumber mineral tentu bukan langkah yang tepat untuk pola hidup sehat Anda.

Baca Juga  Baru 50 Persen SPPG Berlisensi Higiene, Badan Gizi Nasional Targetkan Rampung Agustus 2026

Indeks Glikemik dan Dampaknya pada Gula Darah

Salah satu alasan kuat mengapa gula aren dianggap ‘lebih aman’ adalah nilai Indeks Glikemik (IG) yang diklaim lebih rendah. Sebagai gambaran, gula pasir memiliki nilai IG sekitar 65, sementara gula berbasis palma berkisar antara 35 hingga 54. Secara teori, nilai IG yang lebih rendah berarti gula tersebut diserap lebih lambat oleh tubuh, sehingga tidak memicu lonjakan gula darah secara drastis.

Namun, para ahli mengingatkan bahwa angka ini bisa bervariasi tergantung pada proses pengolahan dan jenis pohonnya. Selain itu, WHO (World Health Organization) tetap menegaskan bahwa segala bentuk gula tambahan, dari mana pun asalnya, harus dibatasi. Batas idealnya adalah tidak lebih dari 5 hingga 10 persen dari total kebutuhan energi harian. Dengan kata lain, mengganti jenis gulanya saja tidak cukup jika kuantitas yang dikonsumsi tetap berlebihan.

Cara Bijak Mengelola Konsumsi Manis

Alih-alih sekadar beralih jenis gula, Kabarmalam.com merangkum beberapa strategi praktis agar Anda tetap bisa menikmati rasa manis tanpa merusak kesehatan:

  • Gunakan Aturan Sendok: Satu sendok makan gula setara dengan 12-15 gram. Batasi asupan gula tambahan maksimal 2-3 sendok makan sehari untuk menghindari risiko diabetes.
  • Waspadai ‘Gula Tersembunyi’: Gula sering kali bersembunyi dalam saus, kecap, yogurt berperisa, hingga sereal yang kita anggap sehat. Selalu baca label kemasan.
  • Fokus pada Minuman: Sering kali, sumber gula terbesar bukan dari nasi atau camilan, melainkan dari apa yang kita minum. Mengurangi gula dalam minuman adalah langkah tercepat memangkas kalori harian.
  • Jangan Terbuai Label: Meskipun menggunakan gula aren, tetaplah perhatikan porsi. Label ‘sehat’ jangan sampai menjadi pembenaran untuk konsumsi berlebih.
Baca Juga  Bukan Sekadar Olahraga, Inilah Rahasia Visual di Balik Perut Kencang Miranda Kerr di Runway Victoria's Secret

Kesimpulannya, gula aren memang memiliki keunggulan kecil dari sisi proses dan kandungan mineral, namun perbedaannya dengan gula pasir tidaklah revolusioner. Kunci utama kesehatan jangka panjang tetap terletak pada moderasi. Jadi, tetap nikmati kopi Anda, tapi pastikan jumlah manisnya tidak melampaui batas yang mampu ditoleransi tubuh.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid