Ikuti Kami
kabarmalam.com

Hati-hati! Kombinasi Makanan Ini Ternyata Bisa Menghambat Penyerapan Zat Besi di Tubuh

Wahid | kabarmalam.com
Minggu, 26 Apr 2026 09:34 WIB
Hati-hati! Kombinasi Makanan Ini Ternyata Bisa Menghambat Penyerapan Zat Besi di Tubuh

Kabarmalam.com — Pernahkah Anda merasa tetap lemas meski sudah mengonsumsi makanan bergizi? Bisa jadi, masalahnya bukan pada jumlah makanan yang masuk, melainkan pada bagaimana tubuh menyerap nutrisi tersebut. Zat besi, sebagai komponen kunci pembentuk sel darah merah dan penjaga energi tubuh, memerlukan strategi khusus agar dapat terserap secara optimal oleh sistem pencernaan kita.

Banyak orang mengira bahwa menyantap daging atau sayuran hijau sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan harian. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa penyerapan zat besi sangat dipengaruhi oleh jenis makanan pendamping yang kita konsumsi secara bersamaan. Tanpa strategi yang tepat, nutrisi penting ini justru bisa terbuang percuma.

Memahami Dua Wajah Zat Besi: Heme dan Non-Heme

Dalam dunia gizi, zat besi tidaklah seragam. Secara garis besar, terdapat dua kategori utama yang memiliki karakter penyerapan berbeda di dalam tubuh kita:

  • Zat Besi Heme (Sumber Hewani): Jenis ini ditemukan pada daging merah, hati, unggas, ikan, telur, dan aneka seafood. Keunggulan utamanya adalah tingkat bioavailabilitas yang tinggi, yakni sekitar 25-30%. Artinya, tubuh dapat menyerapnya dengan mudah tanpa banyak terganggu oleh komponen makanan lain.
  • Zat Besi Non-Heme (Sumber Nabati): Ditemukan pada sayuran hijau seperti brokoli, kacang-kacangan, biji-bijian, hingga buah kering seperti kismis. Sayangnya, jenis ini lebih sulit ditaklukkan oleh sistem pencernaan kita, dengan tingkat penyerapan hanya berkisar antara 1-10%. Penyerapannya sangat bergantung pada bantuan nutrisi lain.
Baca Juga  Sering Merasa Lapar Saat Kurang Tidur? Kenali Dampak Tersembunyi dan Rahasia Memperbaikinya

Memahami perbedaan ini adalah langkah krusial untuk mencegah risiko gejala anemia yang sering mengintai masyarakat modern.

Sinergi Nutrisi: Siapa Kawan dan Siapa Lawan?

Penyerapan zat besi menyerupai sebuah sistem kerja sama. Ada nutrisi yang bertindak sebagai stimulan, namun ada pula yang justru menjadi penghambat (inhibitor). Salah satu pahlawan utama dalam proses ini adalah Vitamin C.

Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, SpGK(K), seorang ahli gizi terkemuka, menjelaskan bahwa zat besi tidak bekerja sendirian. “Zat besi sangat berkaitan dengan berbagai zat, terutama Vitamin C yang membantu proses perubahannya agar lebih mudah diserap lambung. Namun, konsumsi yang berlebihan juga perlu diwaspadai agar tidak memicu iritasi lambung,” ungkapnya dalam sebuah diskusi kesehatan.

Baca Juga  Waspada Cuaca Ekstrem! Ini 5 Rahasia Tetap Bugar dan Jaga Kelembapan Rumah di Musim Pancaroba

Berikut adalah beberapa kombinasi cerdas yang bisa Anda terapkan dalam pola makan sehat sehari-hari:

  • Menambahkan perasan jeruk nipis pada sayur bayam.
  • Memadukan tumis brokoli dengan paprika yang kaya vitamin.
  • Mengonsumsi buah jeruk atau stroberi setelah menyantap kacang-kacangan.

Di sisi lain, Anda harus waspada terhadap beberapa zat yang dapat mengikat zat besi dan menghambat perjalanannya ke dalam darah, seperti:

  • Tanin: Terkandung dalam teh dan kopi.
  • Kalsium: Ditemukan dalam susu dan produk turunannya.
  • Fitat dan Oksalat: Umumnya ada pada beberapa jenis kacang-kacangan dan sayuran tertentu.

Tips Mengoptimalkan Asupan Zat Besi Secara Profesional

Agar asupan nutrisi Anda tidak sia-sia, tim redaksi Kabarmalam.com merangkum beberapa langkah praktis yang bisa Anda praktikkan mulai hari ini:

1. Gunakan Teknik ‘Boosting’ Vitamin C

Selalu usahakan ada sumber sumber vitamin C dalam setiap piring makan Anda, terutama saat Anda mengandalkan protein nabati sebagai sumber utama zat besi.

Baca Juga  Kisah Medis Langka: Ketika Gejala Diabetes Ternyata Sembunyikan Serangan Autoimun Ganda APS-2

2. Integrasi Heme dan Non-Heme

Mencampurkan sedikit sumber hewani ke dalam hidangan nabati ternyata efektif. Kehadiran zat besi heme dapat memicu penyerapan zat besi non-heme menjadi lebih efisien secara alami.

3. Strategi Jeda Waktu

Bagi Anda pecinta kopi atau teh, sebaiknya jangan langsung meminumnya sesaat setelah makan besar. Berikan jeda sekitar 1 hingga 2 jam agar tubuh memiliki waktu yang cukup untuk menyerap zat besi tanpa gangguan tanin.

4. Konsistensi Adalah Kunci

Anda tidak perlu terlalu terobsesi untuk menciptakan menu yang sempurna setiap saat. Fokuslah pada konsistensi dalam mengatur rotasi makanan. Pola makan yang seimbang dalam jangka panjang jauh lebih bermanfaat dibandingkan diet ketat yang dilakukan secara sporadis.

Dengan pengaturan yang tepat, Anda tidak hanya sekadar makan, tetapi benar-benar memberikan asupan berkualitas bagi tubuh untuk tetap berenergi sepanjang hari.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid