Tragedi Berdarah Jelang Gencatan Senjata: Serangan Masif Rusia di Ukraina Tewaskan 21 Orang
Rabu, 06 Mei 2026 15:04 WIB
Kabarmalam.com — Langit Ukraina kembali mencekam di tengah isu kemanusiaan yang sedang diperjuangkan. Harapan akan jeda sejenak dari dentuman meriam sirna seketika setelah serangkaian serangan udara Rusia menghantam pemukiman warga pada Selasa (5/5) waktu setempat. Ironisnya, gempuran mematikan ini terjadi hanya beberapa jam sebelum rencana gencatan senjata sementara diberlakukan.
Laporan terbaru mengonfirmasi sedikitnya 21 nyawa melayang akibat agresi terbaru dari Moskow ini. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, mengungkapkan kemarahannya dan menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk “sinisme total”. Bagaimana tidak, serangan yang menargetkan pusat kota ini diluncurkan di tengah upaya negosiasi untuk menghentikan kontak senjata demi peringatan hari patriotik pada 9 Mei mendatang.
Zaporizhzhia dan Kramatorsk Menjadi Titik Terparah
Kota Zaporizhzhia menjadi saksi bisu kekejaman malam itu. Wilayah yang berada di garis depan pertempuran ini mencatat jumlah korban terbanyak, dengan 12 orang dilaporkan tewas. Zelensky menegaskan bahwa gempuran di wilayah selatan ini sama sekali tidak memiliki nilai strategis secara militer dan murni menghantam warga sipil yang tidak berdaya.
Tak hanya Zaporizhzhia, kota Kramatorsk di wilayah timur Ukraina juga mengalami nasib serupa. Rudal-rudal Rusia menghujam tepat di pusat kota, menewaskan lima orang warga. Pihak berwenang setempat memperingatkan bahwa jumlah korban kemungkinan besar masih akan bertambah mengingat proses evakuasi di reruntuhan bangunan masih terus berlangsung.
Gencatan Senjata yang Dinodai Darah
Menjelang tengah malam, kota Dnipro juga tak luput dari sasaran. Empat orang dinyatakan tewas sesaat sebelum tenggat waktu penghentian serangan yang diusulkan oleh Kyiv pada 6 Mei. Situasi ini menciptakan paradoks pahit, di mana Rusia menuntut adanya gencatan senjata untuk memperingati Hari Kemenangan Perang Dunia II, namun tetap mengirimkan proyektil maut ke wilayah kedaulatan Ukraina.
“Kami membutuhkan ketenangan yang nyata setiap hari, bukan sekadar keheningan beberapa jam untuk kepentingan seremoni atau perayaan tertentu,” tegas Zelensky saat mendesak komunitas internasional untuk mengecam keras aksi tersebut.
Dampak Eskalasi dan Luka yang Mendalam
Berdasarkan data resmi dari pemerintah Ukraina, selain korban jiwa, terdapat sedikitnya 70 orang yang mengalami luka-luka akibat rentetan serangan udara tersebut. Sementara itu, di sisi lain, otoritas di Crimea—wilayah yang dianeksasi Rusia—mengklaim adanya serangan drone dari pihak Ukraina yang menewaskan lima orang sipil pada Rabu pagi.
Eskalasi yang terus meningkat ini semakin memperumit upaya perdamaian di wilayah konflik Rusia-Ukraina. Di tengah puing-puing bangunan dan duka keluarga yang ditinggalkan, dunia kini menanti langkah konkret dari para sekutu Ukraina untuk merespons tragedi berdarah yang terjadi tepat sebelum janji perdamaian sementara itu diucapkan.