Gencatan Senjata Goyah, Gempuran Israel di Lebanon Tewaskan 10 Orang dalam Sehari
Rabu, 29 Apr 2026 23:34 WIB
Kabarmalam.com — Harapan akan kedamaian permanen di Lebanon tampaknya masih tertutup kabut tebal. Meski kesepakatan gencatan senjata secara teknis tengah berlangsung, deru mesin perang Israel nyatanya belum benar-benar reda. Dalam kurun waktu 24 jam terakhir, dilaporkan sedikitnya 10 nyawa melayang akibat serangkaian operasi militer yang meluncur ke wilayah Lebanon.
Tragedi di Majdal Zoun: Petugas Penyelamat Turut Menjadi Korban
Salah satu insiden paling memilukan terjadi di Majdal Zoun, sebuah kota yang tak jauh dari pesisir Tyre. Berdasarkan data Badan Pertahanan Sipil Lebanon, serangan udara awal menghantam sebuah bangunan dan menewaskan dua warga sipil. Namun, tragedi tak berhenti di situ. Saat tim penyelamat bergegas memberikan pertolongan bagi para korban, serangan susulan justru menghantam lokasi yang sama, menewaskan tiga personel Pertahanan Sipil di tengah misi kemanusiaan mereka.
Aksi ini memicu kecaman keras dari Kantor Presiden Lebanon, Joseph Aoun. Dalam pernyataan resminya, pihak kepresidenan mengutuk keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai bagian dari rangkaian serangan sistematis yang menyasar pekerja bantuan dan garda terdepan penyelamatan.
Dalih Israel dan Target Operasi Militer
Di sisi lain, pihak militer Israel (IDF) memberikan pembelaan terkait operasi di Majdal Zoun. Kepada media, mereka mengklaim bahwa target utama serangan tersebut adalah seorang komandan Hizbullah. Terkait gugurnya petugas medis dan terlukanya tentara Lebanon, pihak IDF menyatakan tengah melakukan peninjauan mendalam.
“IDF beroperasi melawan organisasi teroris Hizbullah, bukan melawan Angkatan Darat Lebanon ataupun penduduk sipil,” tegas perwakilan militer Israel dalam sebuah pernyataan tertulis.
Eskalasi di Berbagai Titik Wilayah Selatan
Ketegangan tidak hanya terpusat di satu titik. Laporan dari media pemerintah Lebanon menyebutkan bahwa serangan militer juga menghujam kota Tebnine dan Shaqra di bagian selatan yang menewaskan dua orang. Di kota Jwaya, satu nyawa kembali melayang akibat serangan yang menurut Israel menargetkan struktur militer milik kelompok militan yang didukung Iran tersebut.
Kementerian Kesehatan Lebanon juga merilis data terbaru mengenai serangan udara di kota Jebchit. Di sana, sedikitnya dua orang tewas dan 13 lainnya mengalami luka-luka akibat hantaman proyektil.
Klausul Gencatan Senjata yang Kontroversial
Situasi ini semakin rumit setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memberikan pernyataan kontroversial di hadapan personel militernya. Netanyahu menegaskan bahwa ketentuan dalam perjanjian gencatan senjata tetap memberikan Israel celah untuk melakukan pengeboman jika dianggap perlu.
“Kebebasan kita untuk bertindak guna menggagalkan ancaman yang muncul adalah bagian tak terpisahkan dari perjanjian yang kita bangun dengan Amerika Serikat maupun pemerintah Lebanon,” ujar Netanyahu dengan nada tegas.
Konflik yang berkepanjangan ini telah meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat sipil. Berdasarkan data statistik Kementerian Kesehatan Lebanon per akhir April, tercatat sudah ada 2.521 jiwa yang gugur dalam konflik Lebanon sejak awal Maret, dengan jumlah korban luka melampaui angka 7.800 orang. Angka-angka ini menjadi pengingat pahit bahwa di balik meja diplomasi, nyawa manusia masih terus menjadi taruhan di medan laga.