Antisipasi Lonjakan Kasus Campak, Dinkes Jabar Gencarkan Imunisasi Massal ORI dan CUC
Senin, 13 Apr 2026 16:04 WIB
Kabarmalam.com — Ancaman penyakit campak kini tengah menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Guna membentengi generasi muda dari risiko penularan yang lebih luas, Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Barat secara agresif mendorong pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) di berbagai titik yang mengalami tren kenaikan kasus. Langkah preventif ini diambil sebagai upaya respons cepat untuk memutus rantai penyebaran virus yang sangat menular tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Vini Adiani Dewi, menjelaskan bahwa kebijakan ORI ini menyasar anak-anak dalam rentang usia 9 hingga 59 bulan. Uniknya, imunisasi tambahan ini diberikan tanpa melihat status imunisasi sebelumnya. Strategi ini dianggap paling efektif untuk menciptakan kekebalan kelompok (herd immunity) secara instan di wilayah yang terdeteksi mengalami peningkatan kasus signifikan.
Fokus Wilayah dan Jadwal Imunisasi
Berdasarkan data pemantauan hingga medio Maret 2026, terdapat dua wilayah prioritas yang akan melaksanakan ORI pada April 2026 mendatang, yakni Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Garut. Khusus untuk Garut, langkah serupa sebenarnya telah dimulai sejak Februari 2026 di beberapa titik seperti Puskesmas Cimaragas, Bagendit, dan Cibiuk.
Selain program ORI, Dinkes Jabar juga terus menggalakkan Catch up Campaign (CUC) atau kampanye imunisasi kejar bagi anak-anak yang sempat melewatkan dosis lengkap imunisasi campak rubella. Saat ini, program CUC masih berlangsung intensif di delapan wilayah besar, meliputi Kota Bandung, Kota Bogor, Kota Depok, Kota Bekasi, Kota Cirebon, serta Kabupaten Bogor, Kabupaten Cirebon, dan Kabupaten Subang.
Kesiapan Logistik dan Distribusi Vaksin
Mengenai ketersediaan stok, Vini Adiani Dewi memastikan bahwa pasokan vaksin campak rubella (MR) berada dalam kondisi aman untuk mendukung jalannya ORI dan CUC. “Jika terjadi kendala stok di lapangan, pihak puskesmas diharapkan segera berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Jabar,” tegasnya.
Hambatan kecil terkait distribusi alat suntik auto disable syringe (ADS) dari Kementerian Kesehatan juga tengah diatasi. Alat suntik sekali pakai tersebut telah melewati proses verifikasi dan siap didistribusikan ke daerah-daerah guna kelancaran program imunisasi massal ini.
Prosedur Penanganan dan Imbauan Masyarakat
Dalam upaya mitigasi, Dinkes Jabar menginstruksikan seluruh fasilitas kesehatan, mulai dari rumah sakit hingga puskesmas, untuk melaporkan setiap temuan kasus suspek campak dalam waktu kurang dari 24 jam. Langkah penanganan bagi pasien suspek meliputi:
- Isolasi mandiri minimal selama tujuh hari setelah munculnya ruam merah di kulit.
- Pemberian dosis Vitamin A yang tepat sesuai kategori usia anak.
- Pemenuhan asupan nutrisi tinggi protein dan kalori untuk mempercepat pemulihan.
- Penerapan gaya hidup bersih dan sehat di lingkungan keluarga.
Vini juga mengingatkan para orang tua agar proaktif mengecek kembali buku kesehatan anak. Mengingat kesehatan anak adalah prioritas, imunisasi dasar campak idealnya diberikan sebanyak tiga kali, yakni pada saat anak berusia 9 bulan, 18 bulan, dan saat menempuh pendidikan di kelas 1 SD. “Tidak ada kata terlambat untuk melindungi anak. Segera datangi posyandu atau puskesmas terdekat jika jadwal imunisasi buah hati Anda belum lengkap,” pungkasnya.