Diplomasi Buntu di Islamabad: Perundingan Maraton 21 Jam Iran-AS Berakhir Tanpa Kesepakatan
Minggu, 12 Apr 2026 21:35 WIB
Kabarmalam.com — Harapan dunia untuk melihat redanya ketegangan di Timur Tengah melalui jalur meja perundingan tampaknya harus tertunda lebih lama. Upaya diplomasi maraton selama 21 jam yang mempertemukan delegasi tingkat tinggi Iran dan Amerika Serikat (AS) di Pakistan resmi berakhir tanpa membuahkan hasil nyata, meninggalkan masa depan gencatan senjata dalam ketidakpastian yang mencekam.
Pertemuan yang diinisiasi oleh pemerintah Pakistan ini menjadi sorotan global mengingat kedua negara tengah terjebak dalam pusaran konflik geopolitik yang panas. Berlangsung selama dua hari sejak Sabtu (11/4/2026), negosiasi ini dipimpin langsung oleh Wakil Presiden AS, JD Vance, sementara pihak Iran diwakili oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf. Meski berlangsung hampir sehari semalam, diskusi yang intens tersebut gagal mencairkan kebekuan hubungan kedua negara.
Kabar Buruk dari Islamabad
Dalam konferensi pers yang digelar di Islamabad setelah perundingan usai, Wakil Presiden JD Vance memberikan gambaran yang kontras mengenai jalannya pertemuan. Ia mengakui adanya dialog yang mendalam, namun hasil akhirnya tetap saja nihil.
“Kami telah berdiskusi secara substantif dengan pihak Iran selama 21 jam penuh. Itu adalah sisi positifnya. Namun, kabar buruknya adalah kita belum mencapai kesepakatan apa pun,” ujar Vance dengan nada serius. Ia bahkan menekankan bahwa kegagalan ini akan berdampak lebih berat bagi Teheran dibandingkan bagi Washington sebelum akhirnya memutuskan untuk bertolak kembali ke Amerika Serikat.
Iran Sebut Diplomasi Adalah Proses Panjang
Di sisi lain, pihak Iran tampak lebih tenang dalam menanggapi kegagalan ini. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa mencapai kesepakatan besar dalam satu sesi pertemuan tunggal adalah hal yang tidak realistis. Menurutnya, diplomasi internasional adalah alat yang terus berjalan untuk melindungi kepentingan nasional.
“Tidak ada yang menyangka perundingan sesulit ini akan selesai dalam satu kali duduk. Diplomasi tidak pernah berakhir; ini adalah instrumen bagi kami untuk menjaga kedaulatan dan kepentingan negara,” tegas Baghaei sebagaimana dilaporkan media pemerintah IRIB dan IRNA.
Krisis Kepercayaan yang Mengakar
Sentimen skeptis juga datang dari Mohammad Bagher Ghalibaf. Melalui pernyataan di media sosial X, ia mengungkapkan bahwa bayang-bayang masa lalu masih menjadi penghalang besar dalam membangun rasa percaya terhadap Washington. Pengalaman pahit dari dua perang sebelumnya membuat delegasi Iran bersikap ekstra hati-hati.
“Kami datang dengan iktikad baik, namun sejarah kelam dengan AS membuat kepercayaan sulit dibangun. Pada akhirnya, pihak lawan gagal meyakinkan delegasi kami dalam putaran ini,” tulis Ghalibaf. Meski demikian, ia tetap menyampaikan apresiasi mendalam kepada Pakistan sebagai fasilitator yang telah berupaya maksimal mendamaikan dua kekuatan besar tersebut.
Latar Belakang Konflik yang Berdarah
Ketegangan ini bermula dari serangan udara yang dilancarkan AS dan Israel pada 28 Februari 2026, yang secara mengejutkan menyebabkan gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Tragedi tersebut memicu serangan balasan besar-besaran dari Iran yang menyasar fasilitas AS di Teluk dan wilayah Israel.
Hingga saat ini, korban perang telah mencapai angka yang sangat memprihatinkan. Di Iran, tercatat 2.076 jiwa melayang dan lebih dari 26.500 orang mengalami luka-luka. Sementara di pihak lawan, serangan balasan Iran telah menewaskan 26 warga di Israel serta 13 tentara Amerika Serikat, dengan ribuan lainnya terluka. Gagalnya perundingan di Pakistan ini pun kian menebal kekhawatiran akan terjadinya eskalasi militer yang lebih luas di masa mendatang.