Tragedi Lebanon Selatan: Serangan Israel di Tengah Gencatan Senjata Tewaskan 10 Warga, Termasuk Anak-anak
Rabu, 20 Mei 2026 04:33 WIB
Kabarmalam.com — Harapan akan kedamaian di tanah Lebanon Selatan kembali terkoyak oleh dentuman ledakan dan kepulan asap hitam. Di tengah upaya diplomatik yang tengah berjalan, sebuah serangan udara mematikan dilaporkan menghantam wilayah Deir Qanun al-Nahr di distrik Tyre, merenggut nyawa warga sipil yang tengah mencoba bertahan di tengah ketidakpastian.
Insiden memilukan ini terjadi pada Selasa (19/5/2026), di mana serangan Israel dilaporkan menewaskan sedikitnya 10 orang. Yang kian menyayat hati, laporan dari Kementerian Kesehatan Lebanon mengonfirmasi bahwa di antara para korban terdapat tiga perempuan dan tiga anak-anak yang tidak berdosa. Selain korban jiwa, tiga orang lainnya, termasuk seorang anak, kini tengah berjuang pulih dari luka-luka yang mereka derita akibat serangan udara israel tersebut.
Tragedi ini menjadi ironi besar mengingat komunitas internasional baru saja bernapas lega. Belum genap sepekan, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengumumkan perpanjangan gencatan senjata selama 45 hari antara Lebanon dan Israel. Kesepakatan yang diumumkan pada Jumat (15/5/2026) tersebut merupakan buah manis dari putaran ketiga pembicaraan langsung yang dimediasi oleh Washington.
Namun, realita di lapangan justru berbicara lain. Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, mengungkapkan bahwa meskipun proses negosiasi terus diupayakan, tantangan besar tetap membayangi. Washington menyoroti tindakan kelompok milisi Hizbullah yang terus melakukan serangan terhadap Israel tanpa izin atau persetujuan dari pemerintah resmi Lebanon. Menurut Pigott, tindakan provokatif tersebut dinilai sebagai upaya untuk menggagalkan proses perdamaian yang sedang dibangun.
Sikap Beirut yang mencoba menahan diri di tengah gempuran kepentingan milisi menjadi catatan tersendiri bagi AS. Kendati demikian, jatuhnya korban sipil akibat balasan militer Israel tetap menjadi noda hitam dalam upaya diplomasi ini. Dunia kini menanti putaran keempat pembicaraan yang dijadwalkan berlangsung di Departemen Luar Negeri AS pada 2-3 Juni mendatang, dengan harapan agar konflik timur tengah ini tidak semakin meluas dan menelan lebih banyak korban jiwa di masa depan.