Ikuti Kami
kabarmalam.com

Dinamika Harga Pertamax: Seskab Teddy Ungkap Alasan Penyesuaian dan Bandingkan Harga dengan ASEAN

Husnul | kabarmalam.com
Jumat, 12 Jun 2026 20:34 WIB
Dinamika Harga Pertamax: Seskab Teddy Ungkap Alasan Penyesuaian dan Bandingkan Harga dengan ASEAN

Kabarmalam.com — Fluktuasi pasar energi global kembali membawa dampak pada kebijakan harga energi domestik. Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya memberikan penjelasan komprehensif terkait langkah strategis PT Pertamina yang melakukan penyesuaian terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, khususnya Pertamax. Menurutnya, perubahan ini merupakan konsekuensi logis dari pergerakan harga minyak dunia yang terus mengalami dinamika signifikan.

Korelasi Mekanisme Pasar dan Kebijakan Pemerintah

Teddy menekankan bahwa sebagai produk nonsubsidi, harga Pertamax secara inheren harus mengikuti mekanisme pasar internasional. Sebenarnya, tekanan terhadap harga minyak mentah dunia sudah dirasakan sejak bulan Maret lalu. Namun, pemerintah tidak langsung melepas harga ke pasar, melainkan sempat melakukan upaya penahanan demi menjaga stabilitas ekonomi masyarakat.

Baca Juga  Aksi Cepat CT Arsa dan Koarmada RI Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Kemayoran

“Pertamax adalah BBM nonsubsidi, yang berarti harganya harus selaras dengan perkembangan harga minyak global. Meskipun tren kenaikan sudah terjadi drastis sejak Maret, pemerintah telah berupaya menahan penyesuaian harga tersebut selama berbulan-bulan,” ujar Teddy melalui keterangan resminya yang dikutip pada Jumat (12/6/2026).

Perbandingan Harga di Kawasan Asia Tenggara

Meski terdapat kenaikan, Teddy menyoroti fakta bahwa harga BBM di Indonesia masih jauh lebih kompetitif jika disandingkan dengan negara-negara tetangga di kawasan ASEAN. Berdasarkan data per 11 Juni 2026, nilai jual BBM RON 92/95 di Indonesia masih berada pada level yang jauh lebih rendah dibandingkan Singapura, Thailand, hingga Filipina.

Berikut adalah potret perbandingan harga BBM nonsubsidi di beberapa negara ASEAN (per liter):

  • Indonesia: Rp 16.250
  • Filipina: Rp 22.158
  • Myanmar: Rp 25.085
  • Thailand: Rp 28.910
  • Laos: Rp 31.945
  • Singapura: Rp 42.971
Baca Juga  Babak Baru Perlindungan PRT: Menteri PPPA Sebut Detail Upah dan Hak Cuti Segera Diatur dalam Peraturan Pemerintah

Sebagai informasi tambahan, harga Pertamax disesuaikan dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter, sementara Pertamax Green 95 (RON 95) kini dibanderol Rp 17.000 per liter dari sebelumnya Rp 12.900.

Tanggapan Manajemen Pertamina dan Stabilitas Subsidi

Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, turut angkat bicara mengenai kebijakan yang mulai berlaku sejak 10 Juni 2026 ini. Simon menjelaskan bahwa keputusan tersebut telah mempertimbangkan berbagai aspek makro, termasuk geopolitik global yang memengaruhi rantai pasok energi internasional.

“Penyesuaian harga BBM nonsubsidi ini kami lakukan dengan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat serta kondisi pasar internasional. Perlu diketahui bahwa langkah serupa juga dilakukan oleh penyedia layanan SPBU swasta lainnya di Indonesia,” jelas Simon dalam pernyataannya.

Baca Juga  Skandal Korupsi LNG Pertamina: KPK Beri Sinyal Positif Atas Vonis Dua Eks Petinggi

Kabar baiknya, pemerintah memastikan bahwa BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar tetap stabil dan tidak mengalami kenaikan harga sedikitpun. Sesuai arahan Presiden, harga Pertalite tetap dipatok Rp 10.000 per liter dan Solar di angka Rp 6.800 per liter. Langkah ini diambil untuk memastikan sektor transportasi logistik dan masyarakat menengah ke bawah tetap terlindungi dari dampak inflasi sektor energi.

Tentang Penulis
Husnul
Husnul