Diplomasi Energi Prabowo: Rahasia di Balik Kokohnya Harga BBM Subsidi Saat Dunia Bergejolak
Senin, 04 Mei 2026 01:34 WIB
Kabarmalam.com — Di tengah badai ketidakpastian ekonomi global dan tensi geopolitik yang kian memanas di Timur Tengah, Indonesia mengambil langkah berani untuk melindungi daya beli masyarakat. Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, membeberkan strategi ‘gerilya’ yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto demi memastikan harga BBM subsidi tidak meroket meski pasar energi dunia sedang dalam kondisi kritis.
Misbakhun mengungkapkan bahwa stabilitas harga energi di tanah air bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari diplomasi aktif di tingkat internasional. Menurutnya, Presiden Prabowo bersama jajaran menterinya, termasuk Bahlil Lahadalia, secara intensif melakukan kunjungan ke berbagai negara produsen minyak utama.
Lobi Strategis ke Negara Produsen Minyak
“Presiden dan Pak Bahlil terjun langsung, berpindah dari satu negara produsen ke negara lain. Tujuannya jelas, memastikan suplai minyak mentah masuk ke Indonesia dalam volume besar sehingga stabilitas BBM bersubsidi tetap terjaga. Ini adalah pesan penting yang harus dipahami oleh seluruh rakyat Indonesia,” ujar Misbakhun dalam keterangan resminya pada Senin (4/5/2026).
Langkah ini diambil sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam menghadapi gejolak di Timur Tengah yang dipicu oleh buntunya perundingan antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi tersebut sempat membuat pasar panik dan memicu lonjakan harga komoditas energi di berbagai belahan dunia.
Benteng Perlindungan Ekonomi Rakyat
Saat banyak negara mulai menyerah dengan menaikkan harga energi domestik mereka, Indonesia tetap bertahan. Misbakhun menegaskan bahwa pemerintah berupaya keras agar subsidi energi tidak goyah hingga akhir tahun, bahkan jika harga minyak dunia menembus angka psikologis di atas USD 100 per barel.
“Di seluruh dunia harga minyak melambung, namun Indonesia tetap konsisten mempertahankan harga BBM bersubsidi. Pemerintah tidak ingin rakyat memikul beban berat yang dapat menggerus daya beli mereka,” tambahnya. Selain BBM, komitmen subsidi ini juga terlihat pada harga elpiji 3 kilogram atau yang populer disebut gas melon.
Meski harga elpiji non-subsidi kemasan 5,5 kg dan 12 kg telah mencapai ratusan ribu rupiah, pemerintah memastikan gas melon tetap tersedia di kisaran Rp 22 ribu di tingkat konsumen. Tak hanya energi, negara juga menggelontorkan dana hingga ratusan triliun rupiah untuk subsidi listrik, bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR), iuran BPJS Kesehatan, hingga program Bantuan Langsung Tunai (BLT).
Ancaman Krisis Global di Selat Hormuz
Sebagai informasi tambahan, harga minyak mentah jenis Brent sempat mencatatkan angka fantastis hingga USD 119 atau setara Rp 2 juta per barel pada akhir April lalu. Lonjakan ini dipicu oleh kegagalan diplomasi antara Washington dan Teheran yang berujung pada ancaman blokade di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia.
Ketegangan semakin meruncing setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan persiapan blokade lanjutan terhadap Iran. Menanggapi hal tersebut, Teheran memperingatkan akan adanya aksi militer besar-besaran jika militer AS terus mengintervensi kawasan Selat Hormuz. Di tengah karut-marut global inilah, kepemimpinan Prabowo diuji untuk menjaga kedaulatan energi nasional tetap aman bagi kantong masyarakat kecil.