Tensi Memanas di Selat Hormuz, Iran Beri Peringatan Keras ke AS: Kami Bahkan Belum Memulai!
Selasa, 05 Mei 2026 18:34 WIB
Kabarmalam.com — Ketegangan di Selat Hormuz kembali mencapai titik didih yang mengkhawatirkan. Mohammad Bagher Ghalibaf, negosiator utama sekaligus Ketua Parlemen Iran, melontarkan peringatan tajam kepada Amerika Serikat (AS) agar tidak memancing api lebih besar di jalur perairan paling strategis di dunia tersebut. Dalam sebuah pernyataan yang menggetarkan panggung geopolitik, Ghalibaf menegaskan bahwa apa yang terjadi saat ini barulah permulaan dari kekuatan yang sebenarnya dimiliki Teheran.
Adu Kekuatan di Jalur Nadi Energi Dunia
Situasi di Selat Hormuz kian pelik setelah militer Amerika Serikat mengklaim telah melancarkan serangan udara menggunakan helikopter Apache dan Seahawk. Pihak Washington menyatakan serangan tersebut menargetkan enam kapal Iran yang dianggap mengancam keamanan pelayaran komersial. Tidak berhenti di situ, Presiden Donald Trump bahkan menyebut pasukannya telah melumpuhkan tujuh kapal militer kecil milik Iran dalam sebuah operasi yang sangat intens.
Langkah militer ini merupakan bagian dari upaya AS untuk mengamankan jalur pasokan minyak dan gas global yang menjadi tumpuan ekonomi banyak negara. Namun, klaim tersebut segera dibantah oleh Teheran. Iran justru menuding Washington telah melakukan tindakan ceroboh yang mengakibatkan tewasnya lima warga sipil dalam serangan terhadap kapal-kapal kargo kecil di wilayah tersebut.
Pesan Menohok dari Teheran
Lewat kanal media sosial pribadinya, Ghalibaf menyampaikan pesan yang tidak main-main. Ia menyadari bahwa Amerika Serikat mulai merasa tidak nyaman dengan status quo yang ada di kawasan Teluk. Namun, dengan nada yang menantang, ia mengingatkan bahwa Iran masih menahan diri. “Kami mengetahui betul bahwa kelanjutan status quo tidak dapat ditoleransi oleh Amerika; sementara kami bahkan belum memulai,” tegasnya.
Bagi Iran, kehadiran militer asing di kawasan Teluk dianggap sebagai “kehadiran jahat” yang justru merusak stabilitas keamanan maritim. Ghalibaf berjanji bahwa Teheran tidak akan pernah menyerahkan kendali atas Selat Hormuz kepada pihak manapun. Ia optimis bahwa pengaruh militer AS di wilayah tersebut akan perlahan memudar seiring dengan terbentuknya pola kekuatan baru yang lebih mandiri di kawasan Timur Tengah.
Dampak Global dan Perundingan yang Buntu
Konflik yang telah berkecamuk selama lebih dari dua bulan ini bukan sekadar urusan dua negara. Melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, api peperangan ini telah menyebar ke seantero wilayah dan memicu guncangan hebat pada perekonomian dunia. Meskipun sempat ada jeda gencatan senjata singkat dalam beberapa pekan terakhir, dampak nyatanya telah dirasakan oleh ratusan juta orang di berbagai belahan bumi akibat fluktuasi harga energi.
Di sisi lain, upaya diplomasi untuk meredakan konflik Timur Tengah ini masih menemui jalan buntu. Hingga saat ini, baru ada satu putaran perundingan damai langsung yang terlaksana antara Teheran dan Washington, tanpa ada hasil signifikan yang mampu mendinginkan suasana. Ketidakpastian ini membuat pasar energi global terus bergejolak, menunggu langkah apa yang akan diambil selanjutnya oleh kedua belah pihak di perairan yang dikenal sebagai ‘gerbang energi dunia’ tersebut.