Trump dan Strategi ‘Bajak Laut’ di Selat Hormuz: Raup Untung Besar dari Blokade Iran
Minggu, 03 Mei 2026 07:04 WIB
Kabarmalam.com — Ketegangan di kawasan perairan strategis Timur Tengah kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan pernyataan kontroversial terkait kebijakan luar negerinya. Trump secara terbuka menyamakan aksi blokade militer yang dilakukan negaranya di Selat Hormuz layaknya operasi ‘bajak laut’ yang memberikan keuntungan finansial besar bagi Washington.
Dalam sebuah acara di Florida, Trump mengungkapkan bahwa Amerika Serikat telah mengambil alih berbagai muatan kargo dan komoditas minyak mentah milik Iran sebagai bagian dari blokade laut yang telah berlangsung selama beberapa pekan terakhir. Menurutnya, tindakan ini bukan sekadar manuver militer, melainkan sebuah ‘bisnis yang sangat menguntungkan’.
Retorika ‘Bajak Laut’ dan Tekanan Maksimum
“Kami mengambil alih kargo. Mengambil alih minyak, ini adalah bisnis yang sangat menguntungkan. Siapa yang menyangka? Kami bertindak seperti bajak laut, namun kami tidak sedang bermain-main di sini,” ujar Trump dengan nada bangga. Ia menegaskan bahwa langkah ini merupakan balasan setimpal atas tindakan Teheran yang selama bertahun-tahun menjadikan Selat Hormuz sebagai alat tawar-menawar politik.
Donald Trump berdalih bahwa blokade ini jauh lebih efektif dibandingkan melakukan pengeboman langsung. Ia menggunakan perumpamaan yang tajam dengan menyebut kondisi ekonomi Iran saat ini seperti sedang ‘tercekik’. Trump meyakini bahwa dengan menutup akses ekspor minyak, Teheran akan kehilangan sumber daya untuk mengembangkan program senjata nuklir mereka.
Menolak Tawaran Damai dari Teheran
Laporan yang dihimpun tim redaksi menunjukkan bahwa Trump baru-baru ini menolak proposal diplomasi terbaru dari pemerintah Iran. Teheran menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh, dengan syarat AS mencabut blokade laut yang melumpuhkan pelabuhan-pelabuhan mereka. Namun, Trump tetap bergeming. Ia menegaskan tidak akan melonggarkan tekanan sedikit pun sebelum kesepakatan nuklir yang baru benar-benar tercapai.
“Mereka ingin menyelesaikan masalah ini dan ingin saya mencabut blokade. Tapi saya tidak ingin melakukannya karena saya tidak ingin mereka memiliki senjata nuklir,” tegasnya dalam sebuah wawancara dengan media Axios. Ia bahkan mengklaim bahwa infrastruktur penyimpanan dan pipa minyak Iran berada di ambang kehancuran karena tidak mampu menyalurkan komoditas yang menumpuk akibat blokade tersebut.
Opsi Militer Tetap di Atas Meja
Meski Trump merasa nyaman dengan statusnya sebagai ‘bajak laut’ modern, bayang-bayang konflik fisik yang lebih besar masih menghantui. Komando Pusat AS (CENTCOM) dikabarkan telah menyiapkan skenario serangan udara ‘singkat namun kuat’ sebagai langkah alternatif jika kebuntuan diplomatik ini tidak segera menemukan titik temu.
Ketegangan ini sendiri bermula sejak 28 Februari lalu, saat eskalasi militer antara AS dan Israel melawan Iran memicu penutupan jalur maritim paling vital di dunia tersebut. Walaupun sempat ada upaya gencatan senjata yang dimediasi oleh Pakistan pada awal April, negosiasi di Islamabad menemui jalan buntu tanpa menghasilkan kesepakatan konkret.
Hingga saat ini, pemerintahan Trump terus berupaya menggalang koalisi internasional untuk memperkuat kontrol maritim di Selat Hormuz, sembari mempertahankan blokade yang telah diberlakukan sejak 13 April. Di mata Trump, selama Iran belum menyerah pada tuntutan nuklir, maka ‘bisnis’ blokade ini akan terus berlanjut.