Iran Tegaskan Selat Hormuz Tak Akan Kembali ke Status Quo: Perintah Langsung Pemimpin Revolusi
Senin, 27 Apr 2026 02:03 WIB
Kabarmalam.com — Eskalasi di kawasan Teluk kian memanas setelah otoritas tinggi Iran mengeluarkan pernyataan keras terkait masa depan Selat Hormuz. Jalur pelayaran paling krusial bagi pasokan energi global tersebut dipastikan tidak akan kembali ke kondisi semula seperti sebelum peperangan pecah, sebuah keputusan yang diklaim sebagai instruksi langsung dari otoritas tertinggi di Republik Islam tersebut.
Wakil Ketua Kedua Parlemen Iran, Ali Nikzad, menegaskan bahwa perubahan status di perairan strategis ini bukanlah sekadar manuver sementara. Berbicara kepada kantor berita Mehr News Agency, Nikzad menyatakan bahwa memulihkan kondisi Selat Hormuz ke keadaan pra-konflik sudah tertutup rapat. Langkah ini, menurutnya, merupakan pengejawantahan dari perintah tegas yang diturunkan oleh Pemimpin Revolusi Islam.
Dominasi dan Blokade: Pukulan Telak Bagi Pasokan Energi
Sejak konfrontasi terbuka yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran meletus pada 28 Februari lalu, Teheran terus memperketat cengkeramannya di wilayah tersebut. Situasi semakin pelik ketika armada angkatan laut Amerika Serikat melancarkan blokade pada 13 April, sebuah langkah yang memicu guncangan hebat pada distribusi energi global, terutama bagi negara-negara di kawasan Asia yang sangat bergantung pada pasokan minyak mentah dari Teluk.
Dominasi Iran atas selat sempit tersebut telah menjadi kartu truf utama dalam menghadapi tekanan militer dan ekonomi Barat. Dengan kendali penuh di tangan Teheran, stabilitas pasar energi internasional kini berada di titik nadir, memaksa banyak negara untuk memutar otak demi mengamankan cadangan bahan bakar mereka di tengah konflik as-iran yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Kebuntuan Diplomasi di Islamabad
Di balik gemuruh mesin perang, upaya meja perundingan sebenarnya sempat diupayakan. Dua pekan lalu, delegasi dari Washington dan Teheran bertemu di Islamabad, Pakistan, untuk mencari titik temu. Namun, optimisme tersebut sirna setelah pertemuan tersebut berakhir tanpa kesepakatan berarti. Kegagalan ini memperpanjang ketidakpastian, meskipun sebelumnya Pakistan telah berhasil memediasi gencatan senjata sementara pada 8 April yang sempat diperpanjang beberapa kali.
Saat ini, upaya untuk menghidupkan kembali putaran negosiasi baru sedang terus diupayakan oleh berbagai pihak internasional. Namun, dengan pernyataan terbaru dari parlemen Iran, publik internasional kini meragukan apakah kompromi masih mungkin tercapai ataukah Selat Hormuz akan selamanya menjadi wilayah militeristik yang tertutup bagi tatanan lama dunia.