Trump Desak Israel Hentikan Gempuran di Lebanon: “Perdamaian Sudah di Depan Mata”
Minggu, 14 Jun 2026 23:34 WIB
Kabarmalam.com — Di tengah ketegangan yang kembali menyelimuti langit Beirut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melayangkan seruan tegas kepada Israel untuk segera menghentikan operasi militernya di wilayah Lebanon. Trump menekankan bahwa sebuah momentum besar menuju stabilitas di Timur Tengah sedang dipertaruhkan, dan ia tidak ingin diplomasi yang sedang dibangun berakhir sia-sia.
Melansir laporan dari AFP dan CNN International pada Minggu (14/6/2026), Trump memberikan peringatan keras bahwa upaya kesepakatan damai, yang juga melibatkan dialog dengan Iran, kini telah mencapai titik yang sangat krusial. Dalam pandangannya, gencatan senjata yang menyeluruh bukan lagi sekadar impian, melainkan kemungkinan yang sudah sangat dekat untuk terwujud.
Visi Perdamaian Trump yang Ambisius
“Kita berada pada posisi yang sangat dekat dengan kesepakatan yang akan menghadirkan ketenangan di kawasan ini, termasuk untuk masyarakat di Lebanon. Seluruh pihak yang terlibat harus segera menghentikan konflik bersenjata ini,” ujar Trump dengan nada optimis namun penuh penekanan.
Trump menggambarkan visi masa depan kawasan tersebut sebagai awal dari sebuah era baru yang ia sebut sebagai “perdamaian yang panjang dan indah.” Ia mengingatkan para pemimpin dunia, khususnya sekutu dekatnya di Tel Aviv, untuk tidak menyia-nyiakan peluang emas yang mungkin tidak akan datang dua kali tersebut.
Kritik Atas Serangan di Beirut
Secara spesifik, Trump menyoroti serangan udara terbaru yang dilancarkan militer Israel ke jantung kota Beirut. Baginya, langkah militer tersebut adalah sebuah kekeliruan strategi di tengah negosiasi yang sensitif. Meski mengakui hak Israel untuk membela kedaulatannya, Trump menilai respons yang diberikan kali ini terlalu berlebihan jika dibandingkan dengan ancaman yang ada.
“Serangan yang terjadi pagi ini di Beirut seharusnya tidak perlu terjadi. Israel memang memiliki hak untuk membela diri, namun ancaman yang mereka tanggapi sebenarnya sangat kecil dan tidak signifikan. Tidak ada korban jiwa atau luka serius dari pihak lawan sebelum serangan itu dilakukan, sehingga seharusnya hal itu tidak mengganggu proses perdamaian yang sedang kita jalankan,” tegas sang Presiden.
Dampak Serangan dan Situasi di Lapangan
Informasi yang dihimpun menunjukkan bahwa militer Israel telah mengarahkan rudal-rudal mereka ke basis yang diduga kuat sebagai benteng pertahanan Hizbullah di wilayah Beirut selatan. Serangan ini diklaim sebagai aksi balasan atas provokasi tembakan yang mengarah ke wilayah Israel pada pagi harinya, meskipun kedua belah pihak secara teknis masih berada dalam status gencatan senjata.
Dampak dari gempuran tersebut terlihat nyata di kawasan Dahiyeh, di mana sebuah gedung apartemen mengalami kerusakan parah. Badan Pertahanan Sipil Lebanon melaporkan kabar duka dengan ditemukannya tiga jenazah di reruntuhan wilayah Ghoebeiry. Selain korban jiwa, Kantor Berita Nasional setempat juga mencatat sedikitnya 15 orang mengalami luka-luka serta kerusakan infrastruktur sipil yang signifikan di sekitar lokasi kejadian.
Kini, publik internasional tengah menunggu apakah teguran dari Washington ini mampu meredam mesin perang di Lebanon, atau justru api konflik akan terus berkobar dan melumat asa perdamaian yang baru saja mulai tumbuh.