Ikuti Kami
kabarmalam.com

Ketegangan di Mediterania: Relawan WNI Ungkap Detik-Detik Dramatis Lolos dari Kepungan Kapal Perang Israel

Husnul | kabarmalam.com
Senin, 18 Mei 2026 23:34 WIB
Ketegangan di Mediterania: Relawan WNI Ungkap Detik-Detik Dramatis Lolos dari Kepungan Kapal Perang Israel

Kabarmalam.com — Langit di atas perairan Mediterania Timur yang semula tenang seketika berubah menjadi panggung drama mencekam bagi rombongan kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2026. Di tengah upaya membawa bantuan untuk warga Palestina, para relawan asal Indonesia harus berhadapan langsung dengan moncong meriam dan kecepatan sekoci tempur milik militer Israel (IDF).

Herman Budiyanto, salah satu relawan dari Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), menceritakan bagaimana dinginnya suasana malam saat sejumlah drone pengintai mulai membayangi pergerakan kapal mereka. Itu adalah pertanda awal bahwa misi suci mereka telah masuk ke dalam radar pengawasan ketat pihak Israel.

Aksi Kejar-kejaran di Laut Lepas

Puncak ketegangan terjadi pada Senin pagi (18/5/2026). Herman yang berada di atas Kapal Zapyro bersama rekannya, Ronggo Wirasanu, menyaksikan dua kapal perang besar milik IDF muncul di cakrawala. Tanpa basa-basi, kapal-kapal tersebut menurunkan sejumlah sekoci cepat yang langsung bergerak memburu armada relawan.

Baca Juga  Menanti Peluit Kereta di Utara: Stasiun KRL JIS Target Beroperasi Juni 2026

“Pagi harinya baru muncul dua kapal perang IDF. Kapal-kapal ini kemudian menurunkan sekoci yang bergerak cepat mendekati dan mengejar kami,” ujar Herman dalam sambungan video conference yang diterima tim redaksi Kabarmalam.com saat dirinya masih berada di tengah laut.

Beruntung, Kapal Zapyro berhasil melakukan manuver ekstrem untuk menghindar. Herman menyebut keberhasilan mereka lolos dari sergapan tersebut sebagai sebuah keajaiban dan buah dari doa seluruh masyarakat Indonesia. Strategi yang mereka gunakan adalah dengan berpencar ke segala arah guna memecah konsentrasi pengejaran militer Israel.

Lima Delegasi Indonesia Dilaporkan Hilang Kontak

Namun, tidak semua kapal seberuntung Zapyro. Di balik keberhasilan manuver tersebut, kabar duka datang dari kapal-kapal lainnya. Koordinator Media GPCI, Harfin Naqsyabandy, mengonfirmasi bahwa hingga Senin malam, sedikitnya lima warga negara Indonesia (WNI) telah diintersep dan dibawa paksa oleh tentara Israel.

Baca Juga  Koarmada I Ungkap Fakta Kematian Prajurit di KRI Radjiman, Hasil Visum Pastikan Tak Ada Unsur Kekerasan

Data yang dihimpun mencatat identitas mereka yang diculik meliputi:

  • Andi Angga: Aktivis yang berada di Kapal Josef.
  • Bambang Noroyono: Jurnalis Republika yang bertugas di Kapal Bolarize.
  • Andre Prasetyo: Jurnalis TV Tempo di Kapal Ozgurluk.
  • Thoudy Badai: Jurnalis Republika di Kapal Ozgurluk.
  • Heru Rahendro: Jurnalis iNews di Kapal Ozgurluk.

“Hingga saat ini, 5 delegasi kami diculik oleh pihak militer, sementara 4 lainnya masih berusaha melanjutkan pelayaran di tengah pengawasan ketat,” jelas Harfin saat ditemui di Kantor Dompet Dhuafa, Jakarta Selatan.

Kecaman Keras dari Pemerintah Indonesia

Tindakan represif militer Israel di perairan internasional ini memicu reaksi keras dari Pejabat berwenang di Tanah Air. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyatakan kecaman mendalam atas pencegatan ilegal terhadap misi bantuan kemanusiaan internasional tersebut.

Baca Juga  Saling Gertak di Jalur Vital, Iran Siapkan Serangan Jika Pasukan AS Nekat Masuki Selat Hormuz

Juru Bicara Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, menegaskan bahwa pemerintah terus memantau perkembangan situasi melalui jalur diplomatik dan berkomunikasi intens dengan pihak-pihak terkait untuk memastikan keselamatan para WNI yang masih berada di perairan Mediterania.

Hingga berita ini diturunkan, empat relawan lainnya, yakni Asad Aras, Hendro Prasetyo, Herman Budiyanto, dan Ronggo Wirasanu, dikabarkan masih terus berjuang menembus blokade demi mencapai jalur Gaza, meski kewaspadaan tetap berada di level tertinggi mengingat kehadiran militer Israel yang masih membayangi wilayah tersebut.

Tentang Penulis
Husnul
Husnul