Ikuti Kami
kabarmalam.com

Perjuangan 20 Tahun Ahmad Nung: Dari Penjual Kacamata Keliling Menuju Tanah Suci

Husnul | kabarmalam.com
Selasa, 05 Mei 2026 23:34 WIB
Perjuangan 20 Tahun Ahmad Nung: Dari Penjual Kacamata Keliling Menuju Tanah Suci

Kabarmalam.com — Di tengah gemerlapnya destinasi wisata Bali yang tak pernah tidur, terselip sebuah kisah keteguhan hati dari seorang pria bernama Ahmad Nung. Warga Karangasem ini membuktikan bahwa niat suci yang dibarengi dengan kesabaran luar biasa akan membuahkan hasil manis. Setelah dua dekade menyisihkan rupiah demi rupiah, impiannya untuk menginjakkan kaki di Tanah Suci kini tinggal menghitung hari.

Sosok Ahmad Nung bukanlah pengusaha besar. Kesehariannya dihabiskan di atas motor tua, menyusuri jalanan Bali untuk menjajakan kacamata. Pekerjaan ini sudah ia lakoni sejak masih belia demi menyambung hidup dan membantu orang tua. Namun, di balik debu jalanan yang menyapu wajahnya setiap hari, tersimpan asa besar untuk menunaikan rukun Islam kelima.

Baca Juga  Berkah May Day 2026: Kisah Slamet, Penjual Roti yang Dagangannya Ludes Kilat di Monas

Disiplin Menabung di Tengah Keterbatasan

Memulai langkah besar sejak 20 tahun silam, Nung secara konsisten menyisihkan sebagian penghasilannya. Ia bercerita bahwa jumlah yang ditabung tidaklah tetap, sangat bergantung pada laris tidaknya dagangan kacamata miliknya hari itu. “Tiap hari saya selalu sisihkan uang untuk ditabung agar bisa naik haji, kadang Rp 100 ribu atau Rp 200 ribu tergantung banyak dan tidaknya barang dagangan yang laku,” ungkapnya dengan rona bahagia saat ditemui di kediaman salah satu tokoh masyarakat Karangasem, Selasa (5/5/2026).

Tentu bukan perkara mudah bagi Nung untuk tetap istiqomah dalam menabung. Sebagai kepala keluarga dengan tanggung jawab menghidupi tujuh orang anak, beban finansial yang ia pikul sangatlah berat. Biaya pendidikan dan kebutuhan rumah tangga sehari-hari seringkali menguji tekadnya. Ada kalanya, saat dagangan sepi, ia terpaksa tidak menabung demi mendahulukan urusan dapur. Namun, semangatnya untuk berangkat haji tak pernah surut meski diterpa berbagai kesulitan ekonomi.

Baca Juga  Perjuangan Tak Kenal Lelah Pak Tarno: Keliling Warakas Jualan Mainan Meski di Atas Kursi Roda

Bantuan Keluarga Jadi Pelengkap Ikhtiar

Perjuangan panjang selama dua windu tersebut akhirnya mencapai puncaknya tahun ini. Kabar kepastian keberangkatannya untuk melaksanakan ibadah haji menjadi kado terindah bagi masa tuanya. Meski tabungan yang ia kumpulkan selama puluhan tahun belum sepenuhnya mencukupi total biaya pelunasan yang ditetapkan pemerintah, keajaiban datang melalui tangan-tangan tulus anggota keluarganya.

Nung dengan rendah hati mengakui bahwa dukungan dari anak-anak dan keponakannya menjadi penutup kekurangan dana tersebut. “Untuk bisa berangkat tahun ini, sebenarnya uangnya masih belum cukup. Untung ada anak dan ponakan yang bantu sedikit untuk biayanya,” tuturnya dengan nada bicara yang lirih namun penuh rasa syukur. Kisah Ahmad Nung menjadi pengingat bagi kita semua bahwa panggilan haji bukan sekadar soal kemapanan harta, melainkan tentang keteguhan niat dan ikhtiar yang tiada henti.

Baca Juga  Arab Saudi Perketat Akses Masuk Makkah Mulai 13 April: Hanya Pemegang Izin Resmi yang Boleh Melintas
Tentang Penulis
Husnul
Husnul