Perjuangan Tak Kenal Lelah Pak Tarno: Keliling Warakas Jualan Mainan Meski di Atas Kursi Roda
Jumat, 10 Apr 2026 18:44 WIB
Kabarmalam.com — Di tengah hiruk-pikuk kawasan Warakas, Jakarta Utara, terselip sebuah kisah inspiratif sekaligus mengharukan dari sosok pesulap legendaris tanah air. Pak Tarno, yang dulu dikenal luas dengan jargon khasnya yang menghibur, kini tengah berjuang melawan keterbatasan fisik akibat serangan penyakit stroke. Meski langkahnya terhambat dan bicaranya tak lagi selancar dahulu, api semangat dalam dirinya untuk mencari nafkah secara mandiri tak pernah padam sedikit pun.
Setiap harinya, pria yang menyandang gelar Master Tradisional ini terlihat gigih menyusuri jalanan dengan menggunakan kursi roda. Tidak lagi di atas panggung megah dengan sorot lampu warna-warni, kini Pak Tarno menyapa masyarakat dengan berjualan mainan dan berbagai aksesori sederhana. Langkah perjuangannya ini pun tidak ia lalui sendirian; sang istri tercinta, Lisa, dengan setia mendampingi dan mendorong kursi roda suaminya di bawah terik matahari Jakarta.
Kesetiaan Sang Istri di Masa Sulit
Kehadiran Lisa di sisi Pak Tarno menjadi kekuatan utama sang pesulap untuk terus bertahan. Dalam sebuah kesempatan saat ditemui di wilayah Warakas, Pak Tarno mengungkapkan rasa terima kasih yang mendalam kepada istrinya. Ia merasa sangat bersyukur karena Lisa tetap setia menemaninya dalam kondisi kesehatan yang sedang tidak prima.
“Iya, muter-muter di Warakas. Sama istri, dibantu,” ujar Pak Tarno dengan nada suara yang penuh ketulusan. Baginya, dukungan keluarga adalah modal utama untuk tetap produktif meski kondisi kesehatan memaksa dirinya untuk membatasi aktivitas fisik yang berat.
Dari Asemka Hingga Tanah Abang
Barang dagangan yang ditawarkan Pak Tarno cukup beragam dan sangat dekat dengan dunia anak-anak. Mulai dari tembak-tembakan plastik, cincin mainan, layangan, hingga gantungan kunci yang unik. Uniknya, meski memiliki keterbatasan gerak, Pak Tarno tetap terjun langsung memantau stok barang dagangannya yang ia ambil dari berbagai pusat grosir ternama di Jakarta.
Ia menceritakan bahwa stok mainan tersebut ia dapatkan dari pusat perbelanjaan grosir seperti kawasan Asemka, Jembatan Lima, hingga Tanah Abang dan Kelapa Gading. Rutinitas ini ia jalani dengan penuh kedisiplinan, mulai dari pagi hari hingga waktu asar tiba sekitar pukul setengah empat sore.
Simbol Kemandirian dan Semangat Juang
Kisah pesulap senior ini menjadi pengingat bagi banyak orang tentang arti kerja keras dan harga diri. Di usia senja dan di tengah serangan stroke yang mengganggu mobilitasnya, Pak Tarno memilih untuk tetap bekerja daripada hanya berpangku tangan. Semangatnya yang luar biasa ini pun mendapat banyak apresiasi dari warga sekitar yang sering berinteraksi dengannya saat ia berkeliling.
Kemandirian yang ditunjukkan Pak Tarno membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk tetap memberikan manfaat dan mencari rezeki yang halal. Meski kini ia harus ‘beratraksi’ di jalanan dengan cara yang berbeda, sosok Pak Tarno tetap menjadi inspirasi tentang bagaimana menghadapi ujian hidup dengan senyuman dan kerja nyata.