Israel Gempur Beirut: Ali Mussa Daqduq, Komandan Senior Hizbullah dengan Jejak Sejarah Panjang Tewas
Senin, 15 Jun 2026 01:34 WIB
Kabarmalam.com — Eskalasi konflik di tanah Lebanon kembali mencapai titik didih baru setelah militer Israel mengonfirmasi keberhasilan serangan udara mereka yang menyasar salah satu pilar penting dalam struktur kepemimpinan Hizbullah di Beirut. Dalam pengumuman resminya, otoritas keamanan Tel Aviv mengeklaim telah melenyapkan Ali Mussa Daqduq, seorang tokoh senior yang memiliki catatan panjang dalam peta konflik regional.
Profil Ali Mussa Daqduq: Dari Irak hingga Jantung Hizbullah
Nama Ali Mussa Daqduq bukanlah sosok sembarangan dalam radar intelijen internasional. Militer Israel menyebut Daqduq sebagai otak di balik berbagai perencanaan operasional strategis melawan pasukan Israel Defense Forces (IDF) di sepanjang garis perbatasan Lebanon. Namun, reputasinya yang paling kelam tercatat pada tahun 2007 silam di Irak.
Ia dituduh menjadi aktor utama dalam penculikan dan pembunuhan lima tentara Amerika Serikat di Karbala. “Selama bertahun-tahun, Daqduq memimpin sebagian besar perencanaan operasional Hizbullah terhadap tentara kami,” ungkap perwakilan militer Israel sebagaimana dikutip dari laporan lapangan pada Senin (15/6).
Perjalanan hidup Daqduq sempat melewati balik jeruji besi pasukan AS sebelum akhirnya diserahkan ke pemerintah Irak pada akhir 2011. Ironisnya, ia dibebaskan oleh pengadilan Irak setahun kemudian karena dianggap kekurangan bukti, meskipun Departemen Keuangan AS segera menjatuhkan sanksi berat kepadanya. Di internal kelompoknya, ia sempat memegang posisi prestisius sebagai komandan unit keamanan mantan pemimpin tertinggi, Hassan Nasrallah, serta menjabat sebagai kepala unit infanteri.
Serangan Udara di Beirut dan Pelanggaran Gencatan Senjata
Operasi militer yang menewaskan Daqduq dilaporkan terjadi pada Jumat (12/6) di wilayah selatan Sungai Litani. Selain itu, rudal-rudal Israel juga dilaporkan menghujam kawasan Dahiyeh, yang selama ini dikenal sebagai basis pertahanan utama kelompok tersebut di pinggiran selatan Beirut.
Badan Pertahanan Sipil Lebanon memberikan laporan yang memilukan dari lapangan. Di distrik Ghoebeiry, petugas menemukan setidaknya tiga jenazah di tengah puing-puing bangunan yang hancur. Kantor Berita Nasional setempat juga mencatat sedikitnya 15 orang mengalami luka-luka akibat hantaman rudal yang merusak bangunan apartemen dan pertokoan di sekitarnya.
Serangan ini terjadi di tengah rapuhnya kesepakatan gencatan senjata yang seharusnya meredam tensi di Timur Tengah. Israel berdalih bahwa gempuran ini merupakan respons langsung atas provokasi tembakan yang diarahkan ke wilayah mereka pada pagi hari yang sama. Fenomena berbalas serangan ini menjadi sinyal kuat bahwa perdamaian permanen masih menjadi mimpi yang jauh dari kenyataan.
Kini, dengan hilangnya salah satu komandan infanteri senior mereka, peta kekuatan konflik Lebanon diperkirakan akan mengalami pergeseran signifikan. Sementara itu, warga sipil di Beirut terus terjebak dalam kecemasan di tengah gemuruh mesin perang yang seolah enggan berhenti menyalak.