Dominasi Teheran: Klaim Menang Mutlak Dubes Iran dan Syarat Damai di Kawasan Timur Tengah
Sabtu, 11 Apr 2026 18:06 WIB
Kabarmalam.com — Di tengah eskalasi geopolitik yang terus memanas, Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, melontarkan pernyataan berani mengenai posisi negaranya dalam konflik Timur Tengah. Beliau secara tegas mengklaim bahwa Iran telah meraih kemenangan mutlak dalam konfrontasi dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel, yang menurutnya berujung pada inisiatif gencatan senjata dari pihak lawan.
Berbicara dalam sebuah forum di Universitas Paramadina, Cipayung, Jakarta Timur pada Sabtu (11/4/2026), Dubes Boroujerdi mengungkapkan bahwa situasi saat ini merupakan hasil dari ketangguhan pertahanan negaranya. Menurutnya, pihak lawanlah yang pertama kali menyodorkan meja perundingan setelah menyadari kebuntuan di medan tempur.
“Alhamdulillah, Iran telah meraih kemenangan yang mutlak. Kemenangan tersebut memuncak pada sebuah gencatan senjata, di mana musuh-musuh kami yang justru mengusulkan untuk memulai proses negosiasi,” tutur Boroujerdi dengan nada penuh keyakinan.
Skeptisisme di Meja Diplomasi
Meski pintu dialog kini terbuka, Boroujerdi menegaskan bahwa Iran tidak lantas menaruh kepercayaan penuh pada janji-janji diplomatik dari Washington maupun Tel Aviv. Diplomasi internasional Iran kali ini dibayangi oleh catatan sejarah yang pahit. Beliau mengingatkan bahwa dalam beberapa kesempatan sebelumnya, proses negosiasi justru dimanfaatkan musuh sebagai celah untuk melancarkan serangan mendadak.
“Kami memiliki niat yang baik, namun kepercayaan terhadap musuh adalah hal lain. Pengalaman mencatat, dua kali kami masuk ke ruang negosiasi, dua kali pula kami justru dihantam serangan di tengah proses tersebut,” ungkapnya di hadapan para audiens.
Ambisi Damai yang Menyeluruh
Lebih lanjut, Dubes Boroujerdi menjelaskan bahwa Teheran tidak hanya menginginkan ketenangan di wilayah kedaulatannya sendiri. Iran mendorong agar kesepakatan gencatan senjata ini bersifat komprehensif, mencakup seluruh titik api di kawasan Timur Tengah. Hal ini menjadi syarat mutlak yang tidak bisa ditawar demi terciptanya stabilitas yang berkelanjutan.
Boroujerdi juga melontarkan kritik tajam terhadap Israel yang dinilainya kerap mencederai kesepakatan damai di berbagai wilayah konflik, mulai dari Gaza, Lebanon, hingga Yaman. Ia menegaskan bahwa perdamaian tidak akan pernah terwujud jika dilakukan secara parsial atau tebang pilih.
“Syarat utama kami adalah perdamaian menyeluruh di seluruh wilayah. Tanpa itu, tidak akan ada perdamaian sama sekali,” tegas sang diplomat senior tersebut.
Ketegangan di Jalur Strategis Selat Hormuz
Selain isu gencatan senjata, kondisi di Selat Hormuz juga menjadi sorotan utama dalam pemaparannya. Sebagai salah satu jalur urat nadi perdagangan minyak dunia, Boroujerdi menyatakan bahwa area tersebut saat ini berada dalam pengawasan ketat. Keamanan maritim di wilayah tersebut kini menerapkan protokol yang jauh lebih ketat dari biasanya akibat situasi keamanan yang belum sepenuhnya stabil.
“Selat Hormuz saat ini tidak sedang dalam kondisi normal. Setiap kapal yang melintas wajib mematuhi protokol ketat yang ditetapkan oleh otoritas keamanan kami demi menjaga kedaulatan dan keamanan bersama,” pungkasnya menutup pernyataan.