Trump Sebut Gencatan Senjata Iran di Ambang Kolaps, Siapkan Manuver Militer di Selat Hormuz
Selasa, 12 Mei 2026 00:04 WIB
Kabarmalam.com — Situasi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan pernyataan keras terkait stabilitas keamanan dengan Iran. Trump menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata yang ada saat ini sedang berada dalam kondisi kritis dan terancam runtuh sepenuhnya.
Berbicara di hadapan awak media di Gedung Putih, Trump tidak menutupi rasa pesimisnya terhadap komitmen Teheran. Ia menilai posisi diplomasi saat ini adalah yang paling rapuh sejak ketegangan dimulai. “Saya harus katakan bahwa ini adalah salah satu yang terlemah. Kondisinya saat ini sangat kritis,” ujar Trump sebagaimana dihimpun oleh tim redaksi kami.
Sinyal Kembalinya Operasi Militer di Selat Hormuz
Ketegangan ini memicu kemungkinan pengaktifan kembali strategi militer di jalur perairan vital dunia. Trump mengungkapkan bahwa dirinya tengah mempertimbangkan secara serius untuk memulai kembali pengawalan angkatan laut bagi kapal-kapal tanker minyak dan komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya Washington untuk memastikan dominasi dan keamanan pasokan energi global. Rencana yang dikenal dengan nama Operation Freedom tersebut sebenarnya sempat diluncurkan pada awal Mei lalu, namun dihentikan secara mendadak hanya dalam waktu dua hari. Kini, di tengah kebuntuan negosiasi, Trump memberi sinyal bahwa operasi tersebut bisa saja kembali digelar demi meraih apa yang ia sebut sebagai “kemenangan penuh.”
Tuntutan Nuklir dan Tekanan Ekonomi
Di balik retorika militer ini, terdapat tekanan domestik yang cukup besar bagi sang presiden. Dampak berkepanjangan dari konflik internasional ini mulai merembet ke sektor ekonomi Amerika Serikat, yang memaksa Trump untuk segera mencari resolusi, baik melalui jalur damai yang keras maupun konfrontasi langsung.
Pihak Gedung Putih sebelumnya telah mengirimkan daftar syarat ketat kepada Iran, terutama yang berkaitan dengan pembatasan total perluasan program nuklir mereka. Namun, Iran merespons dengan proposal balasan yang justru memicu kemarahan Trump. Sang Presiden bahkan secara blak-blakan menyebut proposal dari Teheran tersebut sebagai “sampah” yang tidak layak dipertimbangkan.
Antara ‘Moderator’ dan ‘Orang Gila’
Menariknya, Trump memberikan analisis tajam mengenai peta kekuatan internal di kepemimpinan Iran. Ia membagi faksi di sana menjadi dua kelompok: kelompok moderator dan kelompok yang ia labeli sebagai “orang-orang gila.”
“Orang-orang gila ini ingin bertarung sampai akhir. Jika itu yang mereka pilih, maka ini akan menjadi pertarungan yang berlangsung sangat cepat,” tegas Trump, mengisyaratkan kekuatan militer AS yang siap dikerahkan kapan saja.
Meskipun pintu negosiasi belum tertutup rapat, sikap keras Washington menunjukkan bahwa mereka tidak akan memberikan celah bagi Iran untuk bermanuver. Fokus utama tetap pada penghentian ambisi program nuklir Iran dan stabilitas jalur perdagangan internasional di kawasan Teluk.